SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

"SEJARAH PASCA OPAK/OSPEK UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA Edisi Pengenalan"

“SEJARAHKU IKUT OSPEK”

 

            Setiap mahasiswa baru harus menempuh OSPEK (Orientasi Pengenalan Kemahasiswaan) alias OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan) yang merupakan istilah dan menjadi ciri khas Universitas Islam Negeri, terutama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.  Nah, saat hari pertamaku mengikuti OPAK berlangsung, benar saja begitu membuatku tercengang, sebab aku tidaklah terbiasa sama sekali mengikuti OPAK. Ini jelas berbeda nyata dengan MOS (Masa Orientasi Siswa) ketika saya menginjak bangku SD (Sekolah Dasar), SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan terahkir SMA (Sekolah Menengah Atas). Anda boleh membayangkan bagaimana saya harus bangun dini hari. Ya, tepat pukul 03:20 WIB saya harus bangun, lalu menyegerakan untuk mandi. Aneh? Bukan aneh tetapi nyata. Saya harus melawan kantuk di kala orang-orang sedang tidur terlelap. Saya juga dengan terpaksa melawan hawa dingin yang meresap pori-pori kulit dan bahkan sampai menusuk ke tulang. Bisa dimaklumi memang mengapa dinginnya sangat tidak wajar karena saya berada di daerah pegunungan. Berbeda ketika diriku berada di kota Tangerang Selatan yang apabila mandi sedini hari tadi, pasti tidak sedingin hawa di sini. Mungkin saja hawa yang sejuk yang akan saya rasakan ketika mandi di kala azan subuh pun belum berkumandang.

            Ya, di sebuah dusun kecil, cukup terpencil dan sungguh riil, saya harus tinggal bersama paman. Ya, tepat di barat daya GunungKidul ini mau tidak mau saya harus hidup sesederhana mungkin. Di rumah paman yang cukup mungil, agak kumuh dan tidak ada kamar mandinya ini saya harus mampu beradaptasi dengan baik. Kenapa saya katakan tidak ada kamar mandi? Ya, kalaupun ada tentu tidak bisa digunakan untuk buang air besar dan kalaupun bisa untuk buang air besar, tentu tidak bisa digunakan untuk mencuci pakaian. Memang maklum seribu maklum, kamar mandi itu tidak berlantai keramik, tetapi dari tanah yang maaf  “Kotor, bau dan kumuh” Dindingnya saja terbuat dari gedek dan seng. Atapnya terbuat dari genting batu merah. Baknya tidak digunakan untuk mengisi air, namun kotoran dan debu yang berhamburan di situ.  Sebagian dari anda mungkin mengira bahwa itu masih dalam taraf biasa, tetapi setelah saya deskripsikan lagi, kamar mandi itu bisa dibilang “Kandang” Mengapa? Ya, karena bersebelahan dengan kandang kambing dan ayam. Kalau anda masuk, pasti bau tidak sedapnya menyengat hidung, maka jelas saja “Tidak Layak” disebut sebagai “Kamar Mandi”  Mengapa lagi saya katakan seperti itu? Ya, karena di dalam kamar mandi itu terdapat got yang airnya tidak mengalir ke luar. Gotnya berlumpur dan berbau busuk. Di dalam kamar mandi itu, airnya yang bersih hanya sedikit. Air yang bersih itu di simpan di tempat di dirigen air. Kalau mau kencing atau buang air kecil ataupun sekadar cebok, cukup sulit juga, pasalnya harus menuang air dari dirigen air ke gayung. Ya, tidak seperti mengambil air di bak mandi atau ember menggunakan gayung yang sangat mudah dilakukan. Kamar mandi itu pula tidak bisa digunakan untuk berwudu (menyucikan diri). Kalau bisa tentu saja tidak afdal dan bisa kena najis juga.

            Namun sebenarnya, saya tidak menggunakan kamar mandi itu untuk mandi, tetapi hanya buang air kecil saja dan itupun kalau benar-benar terpaksa (kebelet). Jadi, kalau mau mandi tersedia lima pilihan saja. Semuanya tergantung dari diri sendiri mau memilih yang mana. Tetapi diantara lima pilihan itu ada tingkatannya dari mulai yang paling buruk, buruk, cukup, baik hingga baik sekali.

 

 

 

Baca selengkapnya : Pilihan Pertama

                                                 

1 Response to ""SEJARAH PASCA OPAK/OSPEK UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA Edisi Pengenalan""