SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

BULAN BAHASA - CerPen "ASMARA INI DALAM KEHANGATAN KOPI SUSU"

“ASMARA INI DALAM KEHANGATAN KOPI SUSU”

Karya : Dirham Adenar

 

                Cinta pada kopi susu menentramkan hati, melepas dahaga dan mencairkan suasana sehingga kita bisa mencurahkan isi hati kita pada secangkir kopi yang hangat dan menjadi sumber cinta kita. Kalau kau suka kopi, maka aku akan suka susunya. Kalau kau menjadi pemanis kopi, maka biarkan aku menjadi ampasnya agar kau serap segala suka duka cinta kita pada pahit dan manisnya kopi susu.

            Kita pernah menjalani kedekatan pertemanan yang sudah lama terjalin dan di kedai kopi inilah kita bisa saling berbincang masalah hati. Kau yang bernama Asma Rani mengungkapkan pesan damai pada sebongkah puisi dan aku membalasnya dengan seulas senyum, bahkan terkadang aku pun membalas puisimu. Kita sama-sama memaknai puisi pada rumah hati. Suka ataupun tidak suka kita saling terhubung bagaikan kopi dan susu yang menyatu begitu dahsyatnya.

            “Bagaimana keadaan kopi susumu hari ini?” tanyaku penasaran.

            “Hmm...sekarang dia berubah menjadi hening dan sunyi, semakin lama ia semakin tidak hangat lagi.”

            “Mengapa?”

            “Karena berkat hembusan nafas kita dan hujan yang tiba-tiba menyapa kita.”

            “Ah, benarkah?”

            Kau menganggukkan kepalamu yang dibingkai rapi oleh jilbabmu yang anggun lagi menawan dan memikat siapa saja yang melirikmu. Tak sabar, seketika itu juga aku mencubit pipimu dengan cubitan manja karena jawabanmu itu yang begitu menggoda. Aduhai, pesonamu itu tampil memukau bak bidadari yang langsung mengirimkan bisikan terindah kepadaku. Kau teramat cantik dan imut sehingga aku bisa mengetahui keanggunan isi hatimu hanya dengan memandang aura wajahmu.

            Ah, betapa indahnya dunia ini dengan kisah kita berdua. Kita sama-sama membawa secarik kertas, lalu mengoreskan pena hati di sana dan menuliskan apa saja yang kita inginkan.

            Pada derai hujan yang tiba-tiba menerjang dengan gemuruh petir, wajahmu tiba-tiba kaku. Keanggunanmu seolah sirna dan aku bisa membaca tanda-tanda dimana dirimu alergi dengan suara menggelegar itu. Oh, biarlah kita sama-sama merapatkan dan menjulurkan tangan kita, lalu mengeratkan genggaman supaya kau bisa tetap aman meskipun kutahu bahwa dirimu memang alergi betul terhadap suara yang dapat mengoncangkan hatimu secara bertubi-tubi itu.

            “Mari kita minum bersulang  dengan secangkir kopi susu ini,” ucapku mengajak dirimu.

            Kau terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Mungkin kau masih trauma dengan gemuruh petir itu bukan? Aku mengenggam jemarimu makin kuat kiranya agar membantu dirimu menjadi lebih baik. Agar kau lekas membaik dari trauma itu, maka kubisikkan kata yang terindah dan aku mulai membacakannya kepadamu.

 

            Hanya kehangatan mentari yang bersahaja

            Partikel cahaya menyinari hatimu

            Ketika keluh kesah tanpa nada                

            Mari kita bersulang dengan kopi susu

 

            Meskipun langit kelabu     

            Dan tangisan membasuh kita      

            Peganglah janji kita                                                                                   

            Pada doa dan sumpah setia

 

            Kuharap senyum beraroma cinta           

            Mendekap dalam panorama cerita                     

            Basuhlah dengan pujian dan doa

            Dalam sebuah bingkai cinta kita

                                   

            Asmara ini pada engkau Asma Rani      

            Berharap cinta kita tetap lestari                         

            Dan cangkir kopi menjadi saksi hati      

            Yang memberikan rasa kasih di sanubari

 

            Empat bait puisi tadi telah kubacakan laksana seperti sebuah mantera. Puisi memang bak mantera yang memiliki kekuatan magis katanya. Ah, apa iya? Atau itu hanya anggapan belaka? Tetapi sudahlah, lupakanlah hal itu. Yang terpenting sekarang kau bisa menyihir hatiku bukan karena mantera yang kau lantunkan di dalam secarik kertas, melainkan karena kesetiaan. Ya, karena kesetiaanlah merupakan keajaiban cinta kita dapat abadi, sayangku.

            Bukankah kita saling mengucap janji setia di kala kedai kopi ini memberikan nuansa hening dan mendamaikan? Ya, dalam banyaknya kata yang mendayu-dayu itu kita tuangkan dalam secangkir kopi susu agar kita bisa menikmati kata-kata itu sambil menikmati kopi susu. Ah, betapa nikmatnya bukan? Apalagi ketika hujan menyapa kita. Duh, sayangku aku jadi makin cinta kepadamu.

            Hari ini, hujan seolah memberi kesan romantis, namun kini tidak lagi deras, melainkan hanya meninggalkan gerimis saja. Tidak terasa hari semakin senja, maka lebih baik kita akhiri bincang-bincang hangat di kedai kopi ini. Benar-benar nikmat dan serunya bercengkrama soal kisah kasih kita ditemani harumnya kopi susu yang menghangatkan hati dan tubuh kita. Seperti harumnya kopi yang membawa kelezatan, seperti cinta kita yang dibasuh kenikmatan.

            “Sudah, biar aku yang mentraktir.”

            “Aku saja, kan kemarin Kamu sudah,” tuturmu karena merasa tidak enak hati.

            “Tak apa-apa kok, masak Kamu sih. Sudahlah biar aku saja, Asma Rani,” ujarku.

            “Terima kasih, Say.”

            “Selanjutnya, biar kuantar ya?”

            “Tidak usah, Say, biarlah aku berjalan sendiri saja.”

            Kau melangkah dengan gontainya. Aku memandangmu dari kejauhan sambil melambaikan tangan. Lalu kau menoleh dan tersenyum. Hujan masih tersisa dengan rintik-rintiknya yang menyejukkan. Rintik hujan itu menyisakan titik-titik pada secarik puisi kita. Aku sengaja membawa secarik kertas milikmu agar kusimpan bersama puisiku. Sekilas aku membacanya dan melirik ke arahmu, namun kau telah lenyap dari pandangan mataku. Sampai jumpa ya Asma Rani. Semoga cinta kita tetap lestari dalam restu Ilahi.

            Pertemuan kita kali ini menjadi pembicaraan hati yang tidak akan terlupakan. Aku masih mengingat namamu yang indah. Seperti namamu, Asma Rani yang kuterjemahkan menjadi Asmara Ini.

                                                                                                                          

  Yogyakarta, 08 Oktober 2015

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

BIODATA PENGIRIM :

Dirham Adenar, lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 26 Februari 1997. Alhamdulillah tahun ini dapat menyelesaikan studi di SMAN 1 Karangmojo Yogyakarta hanya dalam tempo dua tahun. Kini berstatus sebagai mahasiswa aktif jurusan Manajemen Pendidikan Islam fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Belajar menulis secara autodidak. Memiliki akun Facebook: Dirham Adenar, Email: dirham_adenar@ymail.com ,Twitter: @DirhanCALM dan Alamat Blog: duniapengetahuandansastra.blogspot.co.id – Bisa dihubungi melalui nomor ponselnya di 083-8959-74402. Alhamdulillah beberapa karyanya berhasil dimuat oleh penerbit lokal. Karya pertamanya dimuat dalam antologi puisi berjudul “Air Mata Ibu” dan antologi cerpen berjudul “Tragedi Halloween” pada Raditeens Publisher. 

 

0 Response to "BULAN BAHASA - CerPen "ASMARA INI DALAM KEHANGATAN KOPI SUSU""

Post a Comment