SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

BULAN BAHASA - CerPen "JO'EDAN DI BULAN NOVEMBER"

 

 

“JO’EDAN DI BULAN NOVEMBER”

Karya : A.Dirham

 

            Gadis yang berkerudung merah itu bernama Jo’edan. Sekilas ia tampil seksi, cantik, mempesona, anggun, rupawan, dan tentu saja memikat hati kaum adam. Binar matanya  seindah kilau mutiara membuat siapa saja ingin mengenalnya lebih dekat. Dibalik keanggunannya sesungguhnya ada sesuatu yang menarik dari gadis itu. Dan hal yang paling unik, menarik sekaligus bombastis adalah Jo’edan hanya beberapa kali saja tersenyum, bahkan tertawa saja selalu rutin setiap setahun sekali. Baiklah, daripada anda bertanya-tanya lagi, maka langsung saja saya ceritakan tentang gadis itu.


            Kisah ini berawal di bulan November. Di sebuah bilik kecil itu, Jo’edan hidup dengan bapaknya bernama Mang Fitra. Bilik yang kumaksud adalah rumah kecil milik mereka. Rumah yang sederhana nyaris mirip gubuk tersebut bagi mereka adalah surga kecil yang mampu melahirkan kedamaian. Suka dan duka ditanggung dan dijalani bersama. Jo’edan merupakan anak semata wayang dari Mang Fitra. Kini, hal yang paling berharga dalam hidup Jo’edan adalah Mang Fitra.

            Tahukah anda? Jo’edan bukanlah gadis biasa, melainkan gadis yang sungguh  istimewa sebab memiliki daya pikat tersendiri, dikenal sebagai kembang desa, dan mahir  membuat hati laki-laki jatuh hati padanya hanya dengan menggunakan tatapan matanya. Waw, tidak ada yang menyangka bukan?

             Menurut penuturan seseorang kepadaku, Konon Jo’edan hanya beberapa kali saja tersenyum dan tertawa setiap setahun sekali saja, tetapi bukan di tempat umum karena menaati aturan adat Kampung Karangbendo bahwa setiap perawan seperti Jo’edan tidak boleh tersenyum apalagi tertawa di tempat umum selama belum mempunyai suami atau dikaruniai keturunan. Aturan itu dibuat mengikat, bersifat memaksa dan tegas agar tidak menyalahi aturan Pemali Mapangngan Buni1.

            Kampung Karangbendo memang terkenal bukan kampung biasa. Aturan adat di sini sangat ketat, keras, dan tegas sebab telah mendarah daging. Barangsiapa yang melanggar akan kena getahnya. Sungguh, perawan manapun tidak akan sudi bertahan di kampung ini, kecuali Jo’edan. Banyak gadis yang memutuskan hijrah ke kota lantaran peraturan adat yang begitu mengikat di kampung ini. Satu-persatu gadis di Kampung Karangbendo hilang entah kemana, kecuali Jo’edan. Barangkali sudah menjadi keputusan Jo’edan menetap di kampung tercinta ini demi menjunjung tinggi adat.

            Minggu pertama di bulan November, entah tiada angin tiada hujan tiba-tiba saja terdengar kabar bahwa Mang Fitra di-PHK. Jo’edan kaget. Mang Fitra hanya meratapi nasib. Betapa pilu juga dalam keadaan seperti ini. Jo’edan harus bisa bangkit dari semua ini. Jo’edan harus bisa memupuk semangat kepada Mang Fitra agar tidak down dan galau berkepanjangan.

            Kumaha3 atuh4, Mang. Sabar wae5 nya’6. Tong7 cerik8 atuh. Cep..cep..cep,” ujar Jo’edan kepada bapaknya yang sudah tumpah ruah oleh air mata.

            Ngapunten9 nya’, Dan. Abah10 teh11  belum bisa membahagiakan Jo’edan.”

            “Nya’ atuh Mang. Teu12 Nanaon13,” sahut Jo’edan sambil menatap wajah bapaknya yang lusuh.

            Melihat bapaknya menangis, Jo’edan merasa iba juga. Nasib keluarganya pasti jadi berantakan ke depannya. Jo’edan pun perlahan-lahan punya ide untuk bangkit dari keterpurukan keluarganya sekarang. Ia memutuskan bekerja demi mencari sesuap nasi. Pekerjaan yang didambakan Jo’edan bukanlah pekerjaan biasa, melainkan pekerjaan yang cukup unik. Baginya, apa saja ia akan lakukan, bahkan hal terkonyol sekalipun akan ia lakukan demi membuat dirinya naik daun. Sungguh luar biasanya, selain cantik, piawai, dan sederhana ternyata Jo’edan mempunyai jiwa juang yang tinggi demi bapak tercinta.

            Minggu kedua di bulan November ini, tiada yang menyangka rupanya Jo’edan merangkap jabatan sebagai pemandu wisata alam sekaligus polisi hutan. Ia menekuni pekerjaannya itu. Baginya, ketekunan adalah hal untuk mencapai impian atas dasar kesabaran, kerja keras, dan doa. Jo’edan mulai mempromosikan alam di kampungnya itu dengan cara berpesan kepada para pengunjung untuk memfoto indahnya Kampung Karangbendo kemudian di-upload ke media massa. Ia mengajak serta mengadakan sayembara. Pada intinya sayembara itu berisi ajakan kepada para pengujung Kampung Karangbendo untuk memperkenalkan wisata alam. Barangsiapa mampu mengajak orang-orang khususnya dari mancanegara, maka Jo’edan tidak segan-segan memberinya imbalan uang tunai ataupun souvenir sebagai bentuk penghargaan.

            Kau tahu kan, apa saja keindahan alam Kampung Karangbendo? Ya, ada taman buah yang rimbun, bukit, telaga berwarna, hutan, dan tangga kuaci. Wisata alam yang paling populer kini adalah hutan dan telaga berwarna. Sebenarnya kalau boleh dibilang, profesi Jo’edan menjadi pemandu wisata sekaligus polisi hutan adalah idenya sendiri yang sempat terbuang, tetapi toh akhirnya dilakoninya juga. Jo’edan tidak pernah merasa mengeluh, meratapi nasib, apalagi menyesal dengan kehidupan keluarga dan pekerjaanya. Meskipun ia jarang sekali tersenyum apalagi tertawa tetapi dalam hatinya bangga dan senang bisa mencari penghasilan yang halal dan bisa menjunjung tinggi harkat dan martabat keluarga juga adat karena cuma satu-satunya perawan yang tersisa di Kampung Karangbendo.

            Minggu ketiga di pertengahan bulan November, Jo’edan menyusuri alam kampungnya itu. Memandang turis-turis dari mancanegara berkunjung. Dalam seminggu saja ia berhasil menjaring wisatawan baik dari dalam dan luar negeri. Orang-orang di kampungnya itu mengacungkan jempol kepada Jo’edan karena dianggap sebagai pahlawan atas idenya yang cemerlang. Memang tidak banyak orang yang mau peduli tentang kampung halaman. Tetapi itu tidak berlaku bagi Jo’edan. Dengan segenap hati dan jiwa akhirnya ia mampu menyulap desanya menjadi wahana wisata yang saban hari ada pelancong yang datang.

            Minggu keempat di bulan November,  rupanya seorang arsitek sekaligus seniman asal Yunani itu datang ke kampung Jo’edan. Ia adalah seorang pelancong yang datang dengan maksud membuat sebuah patung yang ia beri nama sendiri dengan sebutan Jo’edan Statue. Satu sampai enam hari patung itu akhirnya rampung dibuat. Patung itu berdiri tegak di pintu masuk menuju wisata alam Kampung Karangbendo. Jo’edan Statue memiliki diameter 100 cm dengan tinggi mencapai 1000 cm. Memang benar, patung itu mirip sekali dengan Jo’edan. Turis itu benar-benar mahir dalam membuat patung. Ini dilakukannya sebagai bentuk rasa cinta, kagum serta ucapan terima kasih kepada Jo’edan yang menjadi tokoh paling penting lagi berjasa di Kampung Karangbendo.

            Di pengujung bulan November, secara tidak sengaja Jo’edan bertemu dengan si pembuat Jo’edan Statue itu.

            “Hai, namamu siapa? Kau kan yang membuat Jo’edan Statue. Aku salut dan bangga terhadap dirimu sebab kau hebat bisa membuat patung mirip sekali denganku,” ujar Jo’edan mengajak berkenalan serta memulai percakapan dengan si turis itu. Maklum, Jo’edan tipe wanita yang malu-malu kucing. Berbicara dengan orang lain saja selalu ditutup mulutnya dengan salah satu telapak tangannya.

             “Perkenalkan, namaku Uris Numero Uno. Aku berasal dari Yunani. Siapakah namamu, wahai primadona Kampung Karangbendo?”

            Jo’edan segera mengambil pena dan kertas dari dalam tasnya. Lalu menuliskan, “Namaku, Jo’edan. Panggil saja Dan atau Edan.”

            “Oh, Namamu Jo’edan. Baiklah, Dan, sejujurnya pada pandangan pertama aku cinta kepadamu. Sudikah dirimu menikah denganku?” tanya Uris secara tiba-tiba di tempat wisata alam Kampung Karangbendo itu sambil bersimpuh dihadapan Jo’edan. Tak lupa, turis itu menjulurkan bunga mawar merah segar ke hadapan Jo’edan.

            Jo’edan tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Ia masih merasa asing dengan lelaki itu. Jo’edan harus berhati-hati pada orang yang baru dikenalnya dan secara serta-merta mengajaknya ke pelaminan. Itu bukan hal yang biasa memang. Lagipula Jo’edan tidak ingin cepat-cepat mengakhiri masa daranya.

            “Kenapa Kau menolak? Padahal jikalau kau mau kupinang, maka aku akan menuruti apa saja permintaanmu. Asal kamu mau kunikahi ya, kamu mau rumah, pesawat terbang, kapal selam, mobil, berlian, batu akik atau sepeda motor akan kubelikan di tukang rombeng.”

            “Benarkah?”

            “Ya. Tentu saja, Edan.”

            Ah, pastinya dia punya segudang harta karun di balik perutnya yang buncit itu. Demi menghasilkan uang banyak dan agar tidak perlu lagi bersusah payah bekerja di bawah sengatan matahari yang membuat kulitnya hitam lebam itu, maka tanpa basa-basi lagi sambil menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya, Jo’edan dengan mantap mengatakan, “Ya, tapi dengan satu syarat.”

            “Apa itu? Cepat katakan saja!”

            Dari arah samping kanan, Jo’edan segera mendekatkan mulutnya ke telinga turis itu. Lalu membisikkan satu kata, “Cadar.”

            “Lalu?”

            “Cadar tentu saja harus ada kerudungnya, Sayang,” ujar Jo’edan sambil mengelus-elus mulutnya yang mulus.

            “Hah, Sayang? Kau memanggilku dengan sebutan sayang?”

            “Ups..” ucap Jo’edan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Muka Jo’edan berubah menjadi merah delima.

            “Hahaha...kamu keceplosan ya, Dan? Tenang-tenang, aku berjanji akan membelikan apa yang kamu minta itu wahai gadis jelita nan imut,” ujar Uris sambil mencubit pipi Jo’edan.

            Entah mengapa saat itu juga Jo’edan salah tingkah hingga langsung memeluk turis yang berkaca mata itu bagaikan memeluk kekasihnya. Begitu erat seperti tak ingin dilepaskan begitu saja. Turis itu tertawa geli tetapi tetap santai dan menikmati pelukan erat dari gadis cantik itu.

            “Jangankan cadar atau kerudung, sepasang kaus kakiku yang super wangi ini pun akan kuberikan kepadamu. Tenang-tenang, kamu tidak perlu khawatir. Uangku banyak tidak akan pernah kering. Hartaku melimpah ruah. Kau tahu kan? Banyak sekali perusahaan yang kudirikan. Aku dulu mantan tukang rombeng, tetapi sekarang aku disegani karena tahtahku diatas mereka si tukang rombeng. Aku membuka banyak cabang di negara-negara berkembang untuk mendirikan usaha barang-barang rombeng. Ya, termasuk di Indonesia ini.”  

            “Jadi kau membuka usaha barang rombeng? Hwa...Hwaha...Hwahaha...Hwahahaha...Hwahahahaha...Hwahahahahaha...Hwahahahahaha,” ujar Jo’edan dengan tertawa terpingkal-pingkal sampai mulutnya berbusa, terbuka lebar.

            “Ih, menjijikan! Aku tak akan pernah sudi menikahimu, ah. Huh, menyesal aku menawarkan permintaan untuk meminangmu. Dasar jelek, pergi kau dari hidupku!”

            Sstt...sebenarnya ada yang ingin kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya yang membuat Jo’edan tetap bertahan di Kampung Karangbendo bukan karena menjunjung tinggi adat, melainkan karena giginya ompong pisan2.

           

CATATAN (Glosarium):

1.      Pemali Mapangngan Buni1     :           Larangan Melakukan Perbuatan Zina

2.      Pisan2                                     :           Banget/Sekali/Sangat-sangat

3.      Kumaha3                                 :           Bagaimana

4.      Atuh4                                       :           Dong

5.      Wae5                                        :           Saja

6.      Nya’6                                       :           Ya

7.      Tong7                                       :           Jangan

8.      Cerik8                                      :           Menangis        

9.      Ngapunten9                             :           Maaf

10.  Abah10                                     :           Ayah/Bapak

11.  Teh11                                        :           Itu

12.  Teu12                                        :           Tidak

13.  Nanaon13                                 :           Apa-apa/Mengapa

              

 

0 Response to "BULAN BAHASA - CerPen "JO'EDAN DI BULAN NOVEMBER""

Post a Comment