SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

"MONUMEN PAHLAWAN PANCASILA"

MONUMEN PANCASILA YOGYAKARTA

 

A.   Monumen Pancasila

 

Monumen Pancasila berada di Kota Yogyakarta yang pada zaman dahulu sebagai benteng proklamasi tidak luput dari percobaan gerakan komunis, G30S/PKI yang telah menewaskan Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Soegiyono pada bulan September di tahun 1965. Seperti yang terjadi di lubang buaya Jakarta. Di tempat ditemukannya dua pahlawan revolusi itu pun kemudian dibangunlah Monumen Pahlawan Pancasila untuk mengenang peristiwa pemberontaka dari gerakan komunis yang banyak terjadi waktu itu. Beberapa replika ataupun maket kendaraan yang digunakan untuk mengangkut pahlawan revolusi berada di monumen ini.

 

            Pahlawan Nasional Brigader Jenderal TNI Anumerta Katamso. Dia adalah salah satu dari 9 Pahlawan Revolusi yang gugur ketika terjadi peristiwa Pemberontakan G30S/PKI tahun 1965. Di tempat bangunan inilah waktu itu Brigjen Katamso dianiyaya dan akhirnya dibunuh secara sadis. Mayatnya tewas mengenaskan.

 

            Pembunuhan secara kejam dan sadis terhadap Brigjen TNI Anumerta Katamso dan Kolonel Infantri Anumerta Sugiono ketika terjadi peristiwa Pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) yakni pada tahun 1965. Seperti ternukil dalam sejarah bahwa Pemberontakan G30S/PKI merupakan noda sejarah yang menimpa bangsa Inndonesia yang ditandai dengan adanya penculikan dan pembunuhan kejam diluar batas perikemanusiaan. Sembilan Pahlawan Revolusi akhirnya gugur dan dua di antaranya adalah Brigader Jenderal TNI Anumerta Katamso dan Kolonel Infantri Anumerta Sugiono yang gugur di medan di daerah Yogyakarta tempat di mana Monumen Pahlawan Pancasila dibangun.

 

Sejarah dalam runtutan peristiwa pembunuhan tragis yang terjadi di Yogyakarta tersebut diawali dengan datangnya seseorang yang bernama Wiryomartono. Dia adalah pimpinan Biro Khusus PKI (Partai Komunis Indonesia) Yogyakarta yang kemudian menemui Mayor Infantri Mulyono salah seorang perwira Tentara Nasional Indonesia yang berada di lingkungan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta pada tanggal 29 September 1965. Ia meneruskan isu Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta dan keputusan Politbiro CC Partai Komunis Indonesia untuk melakukan gerakan melumpuhkan pimpinan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Maka dari itulah di Daerah Istimewa Yogyakarta perlu dilakukan gerakan mendukung gerakan di Jakarta tersebut juga memohon kesediaan Mayor Infantri Mulyono nanti mengambil alih pimpinan Korem 072/Pamungkas dan Mayor Infantri Mulyono menyatakan  kesediaannya. Kolonel Wiryomartono juga menemui Mayor Infantri Wisnuraji, Komandan Batalyon “L” Kentungan yang meminta kepadanya agar membantu Mayor Infantri Mulyono bila gerakan dimulai.

 

            Kemudian pada tanggal 1 Oktober 1965 pagi setelah mendengar pengumuman dari Gerakan 30S/PKI melalui RRI Jakarta, Dan Rem 072/Pamungkas, Kolonel Infantri Katamso segera mengumpulkan stafnya dan memberi pengarahan tentang situasi. Ia tidak percaya kepada apa yang dikatakan oleh Gerakan 30 September dan komandonya agar tetap loyal kepada Presiden pertama Indonesia, Ir.Soekarno. Kolonel Infantri Katamso juga melarang pers dan radio menyiarkan informasi-informasi yang bersumber dari gerakan tersebut.

 

            Perkembangan selanjutnya Kolonel Wiryomartono mendesak Mayor Infantri Mulyono untuk segera membentuk dewan revolusi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan mengangkat dirinya sebagai Ketua pada saat itu. Maka untuk melakukan itu Mayor Infantri Mulyono harus segera menyingkirkan Dan Rem 072/Pamungkas Kolonel Infantri Katamso.

 

            Kemudian, pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 18.00 Mayor Infantri Wisnuraji memerintahkan anak buahnya, yakni Peltu Sumardi untuk menculik Kolonel Infantri Katamso dari kediamannya juga mengambil Kepala Stafnya Letnan Jenderal Kolonel Infantri Sugiono dari Markas Korem 072/Pamungkas. Kedua orang tersebut dibawa ke Kentungan. Lalu, pada tanggal 2 Oktober 1965 sekitar pukul 02.00 dinihari, kedua perwira tersebut dibawa ke sebuah lubang yang sudah disiapkan di mana para pembunuh sudah siap menunggu. Peristiwanya digambarkan sebagai berikut : Pada pukul 00:00 WIB, Peltu Sumardi membangunkan Pelda Kamil, Perwira Penyelidik Batalyon “L” dan memerintahkan untuk melakukan pembunuhan atas Kolonel Katamso dan Letkol Sugiono.

“Apa persoalannya beliau-beliau ini harus dibunuh”, tanya Kamil.

“Jam ini, atas perintah Komandan Batalyon harus dikerjakan. Perintah beliau pembunuhan juga jangan sampai dilakukan dengan bersuara”, kata Sumardi.

Pelda Kamil hanya bertugas sebagai pengawas, yang bertugas sebagai algojo adalah Serda Alip Toyo dan Ru Morter 8 Kompi bantuan Batalyon “L”.

“Pukul mereka dengan kunci Mortir 8 dan tunggu di tempat kurang lebih 15 meter dari lubang. Kalau kolonel Katamso dan Letkol Sugiono sudah turun dari mobil pukul dari belakang dengan alat itu”, kata Sumardi.

 

Tak lama datang mobil gas dari arah utara, setelah berhenti Letnan Kolonel Sugiono turun. Ia masih berpakaian seragam, mendadak ia dipukul dari belakang dengan kunci Mortir 8 oleh Alip Toyo. Seketika ia jatuh tersungkur. Tubuhnya kemudian dimasukkan dalam lubang yang telah disediakan. Mobil gas datang untuk kedua kalinya membawa Kolonel Katamso, ia turun dan berjalan ke arah barat. Tetapi pukulan kunci Morter 8 menimpa bagian kepalanya. Kolonel Katamso jatuh tersungkur. Melihat ia masih hidup, Pelda Kamil memerintahkan, “Pukul kembali sampai mati”. Serda Alip Toyo memukul lagi sampai Katamso gugur. Melihat Letkol Sugiono yang dalam lubang masih hidup, Alip Toyo melemparkan batu-batu besar ke dalam lubang tersebut, hingga dengkuran Letkol Sugiono berhenti.

Berikut adalah foto-foto miniature yang menggambarkan teraniayanya kolonel katamso dan lektol sugiono:

 

Jenazah mereka baru ditemukan sekitar 20 hari kemudian dalam keadaan rusak. jenazah kedua Pahlawan Pancasila tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegra Yogyakarta

 

C. Brigjen tni anmumerta katamso dharmokusumo

Riwayat Hidup

Lahir di Sragen, 5 Februari 1923. Ayahnya bernama Ki Sastrodarmo sedang Istrinya bernama RR. Sriwulan Murni. Katamso Dharmokusumo berhasil menyelasikan pendidikannya di HIS, MULO, SESKO – AD, dan PETA. Beliau mempunyai   7 ( tujuh) orang anak.

Riwayat Perjuangan

Katamso yang sempat menyelesaikan pendidikan MULO tidak sempat melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi karena Jepang menduduki Indonesia. Katamso Dharmokusumo masuk pendidikan PETA dan setelah selesai diangkat menjadi Boudanco pada Dai II Raidan (Batalyon II) di Solo, setahun kemudian diangkat menjadi Syodanco yang berkedudukan di Solo.

Setelah diproklamasikan Kemerdekaan RI, Katamso Dharmokusumo masuk BKR yang kemudian ditransformasikan kedalam TKR. Katamso Dharmokusumo diangkat menjadi Komandan Kompi Klaten dan bulan Oktober 1946 pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten. Pada waktu agresi militer Belanda II, namanya makin dikenal masyarakat karena pasukannya sering melancarkan serangan gerilya mengganggu kedudukan Belanda di dalam kota.

Tahun pertama sesudah pengakuan Kedaulatan RI. Keamanan negara diganggu gerombolan DI/TII, disamping adanya pemberontakan Batalyon 423 dan Batalyon 426 yang kemudian bergabung dengan DI/TII. Kapten Katamso pun terlibat dalam usaha penumpasan pemberontakan tersebut. Tahun 1957 ia mengikuti pendidikan Sekoad Angkatan 6 di Bandung. Tahun 1958 di Sumatra Barat timbul pemberontakan PRRI yang kemudian diikuti oleh Sulawesi Utara dengan berdirinya Permesta. Mayor Katamso yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sekoad dipercaya untuk memimpin Batalyon A Operasi 17 Agustus yang merupakan operasi gabungan untuk memadamkan Pemberontakan PRRI.

       Selesai operasi utama angkatan perang melancarkan operasi pembersihan. Mayor Katamso diangkat sebagai Assisten Operasi Resimen Team pertempuran II Diponegoro yang berkedudukan di Bukit Tinggi. Awal tahun 1959 naik pangkat menjadi Letnan Kolonel. Pada bulan Agustus 1959 ia diangkat menjadi Kepala Staf Resimen Riau Daratan Kodam III/ 17 Agustus, kemudian menjadi pejabat Kepala Staf Resimen Team Tempur I/Tegas yang berkedudukan di Riau. Setelah ditarik ke Jakarta ia diserahi jabatan sebagai perwira diperbantukan pada Asisten III kepala Staf Angkatan Darat, kemudian sebagai Komandan Pusat Pendidikan dan Infantri AD di Bandung. Pada bulan Agustus 1963 ditarik ke Kodam VII Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta. Sebagai komandan teritorial, Katamso berusaha mendekatkan diri dengan rakyat, memperhatikan kesejahteraan pendidikan bahkan membangun gedung baru untuk sekolah. Pada tingkat mahasiswa Katamso sempat melatih kemiliteran dengan harapan sewaktu – waktu mahasiswa diperlukan sudah mampu memimpin sebuah kompi.

Semua rencana Katamso terhalang dengan meletusnya G30S/PKI. RRI Jakarta yang sudah dikuasi PKI mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi. Para pejabat teras Angkatan Darat di Jakarta mereka diculik dan mereka terbunuh. Pada saat masyarakat diliputi keraguan, PKI telah menyiapkan rencana untuk memperebutkan kekuasaannya di Yogyakarta. Sasaran pertamanya adalah Kolonel Katamso.

Tanggal 1 Oktober 1965, Setelah Kolonel Katamso kembali dari Magelang, kepadanya disodorkan persyaratan mendukung Dewan Revolusi. Dengan tegas Kolonel menolaknya. Ketika mengadakan rapat dengan para staf di rumahnya, Katamso sangat terkejut mengetahui para stafnya banyak yang dipengaruhi PKI. Di bawah todongan senjata, ia dibawa ke Desa Kentungan. Malam tanggal 2 Oktober 1965 ia dibunuh. Mayatnya dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan. Ke dalam lubang itu pula letnan Kolonel Sugiyono dimasukkan, tanggal 22 Oktober 1965 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Pemerintah menghargai jasa-jasa dan pengabdian Kolonel Katamso terhadap bangsa dan negara, dengan surat keputusan Presiden : 118/KOTI/tahun 1965 tanggal 19 Oktober 1965 ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi, pangkatnya dinaikkan secara Anumerta menjadi           Brigadir Jenderal.

 

D.Kolonel infantri anumerta sugiyono

Riwayat Hidup

Sugiyono Mangunwiyoto dilahirkan di Dusun Gederan, Gunung Kidul Yogyakarta pada tanggal 12 Agustus 1926. Ayahnya bernama Kasan Sumitoredjo dan Istrinya bernama Supriyati serta mempunyai 7 (tujuh) orang anak.

Riwayat Perjuangan

Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah guru ia tidak memilih bekerja sebagai guru tetapi lebih tertarik menjadi seorang militer. Pada saat pemerintah pendudukan Jepang mendirikan PETA, ia masuk pendidikan PETA dan setelah selesai diangkat sebagai Budanco (komandan pleton) di Wonosari

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI karir militernya tetap dilanjutkan dengan menggabungkan diri sebagai anggota BKR. Sugiono Mangunwiyoto diangkat sebaggai Komandan Seksi BKR Yogyakarta.

Tanggal 5 Oktober 1945 dibentuk TKR dan BKR ditranformasikan ke dalam TKR Dengan pangkat Letnan dua Sugiyono diangkat menjadi Komandan Seksi 2 Batalyon 10 Resimen 3 di Yogykarta. Setahun kemudian ia diangkat sebagai Ajudan Komandan Brigade 10 Divisi, Letkol Soeharto dan dua tahun kemudian diangkat sebagai Perwira Operasi Brigade C di Yogyakarta. Setelah perang Kemerdekaan ia diangkat menjadi Komandan Kompi 4 Batalyon 411 Brigade C Berkedudukan di Purworejo.

Tahun 1955 naik pangkat menjadi Kapten dan kemudian ditugaskan pada Batalyon 436 di Magelang. Tiga tahun kemudian 1958 diangkat sebagai wakil Komandan Batalyon 441 di Semarang dan sejak Mei 1961 memegang jabatan Komandan Batalyon 4117 banteng Raider III dengan pangkat Mayor. Dari jabatan Komandan Batalyon ia diserahi tugas sebagai komandan Kodim di Yogyakarta merangkap sebagai Pejabat Sementara Kepala Staf 072. Tahun 1963 naik pangkat sebagai Letnan Kolonel.

Pada saat Sugiyono memangku jabatan sebagai Komandan Kodim di Yogyakarta, PKI sudah memperlihatkan kegiatan – kegiatan yang kelak akan menjurus kearah perebutan kekuasaan negara. Intimidasi terhadap golongan yang tidak disenangi sering dilakukan sehingga ketentraman kota menjadi terganggu. Hal ini merupakan tanggungjawab Sugiyono untuk memelihara keamanan tersebut.

Bersama Kolonel  Katamso, Sugiyono berusaha semaksimal mungkin melakukan pembinaan territorial, pendekatan dengan masyarakat dan mahasiswa. Hal ini dinilai PKI sebagai penghalang kegiatan mereka, sehingga Sugiyono termasuk salah seorang perwira yang harus disingkirkan. Tanggal 1 Oktober 1965 PKI melakukan pemberontakan yang disebut G30S/PKI.

Seorang perwira staf Koerm 072 mayor Mulyono mendukung pemberontakan. Ia membagi – bagikan senjata kepada PKI. Markas Korem telah mereka kuasai, sementara itu Sugiyono pergi ke Markas Korem dengan maksud menyusun kekuatan. Tanpa disadarinya ia sudah masuk perangkap. Beberapa anak buah Mayor Mulyono masuk kamar Sugiyono dan menggiringnya di bawah ancaman senjata dibawa ke Kentungan. Satu jam sebelumnya Kolonel Katamso juga mendapat perlakuan yang sama. Untuk sementara ditahan di Markas Batalyon 2 Kentungan.

Tanggal 2 Oktober 1965 pukul 02.00 WIB Letkol Sugiyono dikeluarkan dari tahanan bersama Kolonel Katamso, keduanya dibunuh. Mayor sugiyono dimasukkan kedalam lubang yang sama dengan Katamso. Jenasah kedua Perwira tersebut baru diketemukan pada tanggal 21 Oktober 1965. Sehari kemudian  tanggal 22 Oktober 1965 kedua jenazah tersebut dimakamkan di Taman makam Pahlawan kusumanegara Yogyakarta. Pemerintah menghargai jasa-jasa dan pengabdiannya, berdasarkan SK Presiden No. 118/KOTI/1965 ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi, pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel Anumerta.

 

E.  KOLEKSI MUSEUM    

Museum Monumen Pahlawan Pancasila menyajikan koleksi benda – benda bersejarah berupa :

1.      Koleksi Bangunan : selokan, tembok pagar keliling, pintu gerbang, ruang museum dan monumen Pahlawan Pancasila.

2.      Koleksi Realia (benda asli), Replika (benda tiruan), dan foto-foto sejarah yang terkait dengan peristiwa pemberontakan G 30 S / PKI.

a.         Pakaian yang pernah digunakan oleh Brigadir Jendral TNI (Anm) Katamso

b.         Pakaian yang pernah digunakan oleh Kolonel Inf. (Anm) Sugiyono

c.         Foto-foto dokumentasi penemuan dan pemakaman Pahlawan Revolusi

d.        Koleksi Buku –buku koleksi museum tentang perjuangan

e.         Batu dan Kunci Mortir yang digunakan untuk membunuh Brigadir Jendral TNI (Anm) Katamso dan Kolonel Inf. (Anm) Sugiyono

f.          Duplikat kendaraan yang dipergunakan untuk menculik ke 2 Pahlawan Revolusi

g.         Duplikat kendaraan yang dipergunakan untuk mengangkut ke 2 Jenazah Pahlawan Revolusi Ke TMP Kusumanegara.

h.         Relief Pemberontakan G 30 S / PKI.

F.   FASILITAS UMUM

Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Museum Pahlawan Pancasila dilengkapi dengan fasilitas yang dapat dimanfaatkan sebagai ajang berbagai kegiatan seni, budaya dan ilmu pengetahuan. Fasilitas tersebut antara lain :

1. Halaman Luar                 :           Halaman Parkir

2. Halaman Dalam              :           Monumen Pancasila, Lapangan Sepak Bola, Taman

3. Ruangan yang terdapat didalam bangunan museum yang dapat dipakai sebagai  ruang rapat, seminar, ceramah / diskusi.

 

0 Response to ""MONUMEN PAHLAWAN PANCASILA""

Post a Comment