SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

BULAN BAHASA - CerPen "AMARYLIS ITU BERNAMA AYU"

            Tidak biasanya, pagi-pagi seperti ini Mbok Ayu bersolek dengan menggunakan kebaya merah lengkap dengan setagen tua dan sarung kejawen. Tidak lupa ia mengenakan sanggul ala pengantin keraton. Bibirnya pun dibanjiri lipstik, merah persis seperti darah, tetapi akhirnya belepotan juga. Mukanya semakin putih, namun bukan putih pucat pasi, melainkan bersinar berkat pupur yang dibelikan oleh suami pertamanya di Pasar Setan.

            “Mbok Ayu, arep nyang endi?” tanya Sukadi,

            “Aku arep neng Hongkong.”

            “Lho, kok?”

            “Pake nanya. Wis jelas-jelas aku arep lungo, Mas. Ealah, biasane nek arep tahun baru, aku arep  lungo nyanng endi?

            “Aceh.”

            Mbok Ayu yang tengah asyik bersolek itu kemudian berbalik badan, beranjak dari kursi dan menghampiri Pak Sukadi. Dia memberi sepucuk surat kepada Sukadi. Lantas saja suaminya itu melongo sebab surat itu rupanya berisi pekerjaan rumah.

            Tenane1 Mbok Ayu arep mabur2 neng Aceh? Weladah, nek misale sampean neng Aceh kepiye3 masalah anak-anakmu?”

            “Yo, ben4. Aku ndak5 mau tahu, Pak. Aku wes mumet neng bulan iki, Pak. Kreditan rumah wae ndak pernah diurus. Hutang arisan, kartu kredit sama perabotan rumah belum pada lunas. Mosok arep tahun baru, hutangku makin menumpuk. Wislah5 aku neng mending minggat neng Aceh.”

            Halah, Cah Ayuku. Mbok ojo lungo sek. Meski aku ndak bisa membayar hutang-hutangmu tahun ini, setidaknya tahun besok hutang-hutangmu bakal lunas. Lagian ntar aku kesepian di rumah ini. Jangan pergi ya?”

            “Aku ndak mau tahu, aku sudah terlanjur pesan tiket pesawat terbang!” bentak Mbok Ayu. Dia kemudian membanting pintu kamar dan hendak keluar rumah.

            Pikir Sukadi, Mbok Ayu akan pergi ke Aceh pasti ada udang di balik batu. Sama seperti tahun sebelumnya, Mbok Ayu pasti dengan mudah akan lupa padanya. Di SMS pasti nggak dibales atau ditelepon pasti keluar robot mesin yang malah menjawab, “Maaf, Nomor yang anda tuju tidak menjawab, cobalah beberapa saat lagi.” Sampe dicoba lagi, pasti robot mesin akan menjawab seperti itu juga, atau kalau nggak, pasti bilang begini, “Maaf, Nomor yang anda tuju di luar jangkauan.” Terakhir sampe ada balesan maaf yang terakhir kalinya, “Maaf, Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.” Pas itu Sukadi langsung teler tekewer-kewer dower. Pokonya kayak hilang kontak dan susah banget kalau sudah hilang kontak sama Mbok Ayu. Ya, apalagi kalau Mbok Ayu sampe ke Aceh.

            Biasanya, Mbok Ayu akan pulang ke sini lagi kalau hatinya udah beres dari jeratan utang. Dia pergi ke Aceh paling-paling alasannya hanya ingin ketemu kerabat, sekadar melepas penat atau mumet, tetapi ngapain harus terbang ke Aceh, wong di penjuru Pulau Jawa saja banyak sedulur6nya. Kalau sudah minggat dari sini, Mbok Ayu pasti akan menceritakan hutang-piutang bersama suaminya kepada kerabatnya. Emang siapa kerabatnya itu, Pak Sukadi saja ndak tahu. Wong7 cuma dikasih liat fotonya saja. Katanya itu Mbak Ayunya, tapi perasaan gak ada mirip-miripnya. Makanya, Sukadi sempat curiga sama gelagat istrinya itu jika akan pergi ke wilayah yang paling barat di Indonesia itu. Takutnya dia akan selingkuh. Mana mau Sukadi dimadu. Mana suka Sukadi dijadikan mantan suaminya jika Mbok Ayu berhasil mencari tunangan. Dipikir-pikir terus lama-kelamaan membuat Sukadi mumet juga. Istrinya mumet mikirin utang, eh suaminya malah mumet mikirin orang yang mikirin utang itu.

            “Tapi gimana nasib anak-anakmu? Mereka nanti ya jadi kesepian, kehausan dan kelaparan dan ndak mekar lagi. Poko’e aku minta Mbok Ayu tetap di sini. Kita sama-sama ya menjaga anak-anak kita. Please deh, ah,” pinta Pak Sukadi sambil mengenggam jemari Mbok Ayu.

            Mbok Ayu lantas memelototi suaminya itu, “Halah, bilang aja nanti kalau aku ke Aceh, kamu bakal seneng kan? Biar bisa berduan dengan Amarylis-Amarylis yang lain.”

            “Sumpaahhh, aku nggak bakal nomor duain Kamu, Cah Ayu. Demi Kamu, Amarylis-Amarylis itu akan kuabaikan.”

            “Cius, Mas?”

            Sukadi hanya mengangguk, tapi raut wajahnya terlihat memelas. Biasa, karena akan ditinggal pergi istrinya, Sukadi akan pura-pura berwajah melas supaya dikasihani, tujuannya ya agar Mbok Ayu lekas mengurungkan niatnya pergi ke Serambi Mekkah itu.  Mbok Ayu pasti ndak akan tega melihat suaminya mati kutu. Jika Sukadi sudah mati kutu, tapi malah Mbok Ayu nekat ke Aceh, Sukadi pasti bersimpuh di hadapan isterinya itu. Masih ada was-was yang hinggap di hati Sukadi. Takutnya Mbok Ayu akan mencari suami yang tajir, padahal suaminya setia dan rela hidup prihatin demi isterinya itu.

            Satu kata yang dilontarkan Mbok Ayu kalau lagi mbesengut8 dan suaminya tiba-tiba ngerayu dengan alasan apapun, Mbok Ayu ujung-ujungnya pasti akan bilang, “Gombal.” Langsung jleb9 menusuk hati Sukadi juga.

            Tapi anehnya, Mbok Ayu kalau lagi ngambek di hari-hari sebelum terompet tahun baru dibunyikan, ia akan dandan di kamarnya lalu menggunakan pakaian khas jawa banget. Kayak mau pergi ke pesta atau kondangan, tapi nggak taunya mau pergi ke Aceh. Emang gitu kebiasaanya. Dandanya paling lama biasanya sih satu jam, tapi kalau lagi ngambek pasti sampai tiga jam. Berarti sebelum subuh tadi, Mbok Ayu udah dandan.

            Eh, beneran, dia bilang gombal kepada Sukadi. Ngenes10. Sukadi tidak tahu bagaimana lagi melumpuhkan kerasnya hati Mbok Ayu. Intinya, Mbok Ayu sekali tidak, tetap tidak. Berbeda dengan suaminya yang serba plin-plan. Jadi serba salah, kalau tidak ada Mbok Ayu, anak-anaknya pasti akan terlantar.

            “Mbok Ayu, jangan pergi!” pekik anaknya yang masih bau kencur sambil merengek. Dia masih berupa kuncup, tapi belum mekar. Kalau sudah mekar pasti akan cantik seperti ibunya.

            “Janganlah pergi, Mbok Ayu. Tahun ini aka nada kejutan bila Mbok Ayu tetap di sini,” bisik salah satu anaknya lagi.

            Entah mengapa pernyataan anaknya itu makin membuat otak Mbok Ayu menjadi pening. Sukadi pun demikian.

            Tidak lama setelah sepasang suami-istri itu dibuat bingung, seorang artis ibukota datang. Dia memperkenalkan diri, katanya mau diadakan liputan dadakan mengenai rumah dan anak-anak yang tumbuh di pekarangan.

            “Cantik juga anak-anak ini. Jika semuanya mekar pasti indah seperti ibunya.”

            “Jadi cuma cantik saja dan ndak seganteng bapaknya?”

            “Ah, ia, ganteng juga seperi bapaknya kalau tahan hama dan serangan musim.”

            “Jadi bagaimana, Pak? Sekali liputan pekarangan bapak ini, saya akan memberikan komisi kepada bapak.” ucapnya agak lirih seperti berbisik.

            “Boleh, boleh yo ndak apa-apa.”

            “Bapak, mau uang berapa juta? atau mau punya istri lagi?”

            “Dua-duanya, ups!” sahut Sukadi, keceplosan.

            “Apa? Mas mau menikah lagi? Tuh kan perasaan saya jadi benar ya, Amarylis yang lain pasti jadi incaran bapak?”

            “Bukan, dik. Ya cuma kamu, toh, yangnya bapak selama-lamanya.”

            Artis ibukota itu malah tertawa geli melihat kedua orang kolot itu eyel-eyelan11. Ia tahu keadaan sepasang suami-istri di hadapannya itu adalah orang golongan menengah ke bawah. Sebenarnya ia bisa memberi uang kepada mereka sebanyak 500 juta demi rating acara televisi, tapi urung, takutnya sebelum uang itu diberikan, dua orang kolot itu akan jatuh tak sadarkan diri. Maka, ia memutuskan untuk memberinya uang cukup 2 juta saja.

            Ealah, 2 juta buat makan satu bulan juga belum cukup, mbok ya dipikir,” ujar Mbok Ayu.

            “Sebentar toh, Cah Ayu. Mas ini lagi negoisasi yo.”

            “Jadi, bapak mau minta lebih?’

            “Ya. Ssttt…biasa istriku. Kami masih banyak hutang pada lintah darat. Jadi kami minta uang lebih.”

            “Ya sudah, kami berikan uang 3 juta saja. Bagaimana?”

            “Tambah.”

            Barulah ketika tawaran itu mencapai seratus satu juta, artis ibukota itu langsung angkat kaki.

            “Jangan, pergi ya. Ya sudah 100 juta saja bagaimana?” tanya Mbok Ayu.

            “Ya, sudah. Tapi ingat, resiko ada di tangan kalian jika rumah kalian mendadak populer.

            “Wah, siap. Kan malah bagus kalau rumah kita populer? Ya ndak pak?”  tanya Mbok Ayu sambil menyodorkan tangannya, lalu berkata, “sini, mana uangnya. Aku gak sabar pengen beli emas, mobil dan punya suami yang lebih baru.”

            Kalimat terakhir percakapan itu bagaikan racun yang sangat mematikan bagi Sukadi. Tetapi anehnya, Sukadi tidak marah. Dia hanya mengelus dadanya. Uang seratus juta sudah di pegang isterinya saja, ia tidak marah.

            ***

            Dua hari kemudian, pekarangan milik Sukadi dibanjiri pengunjung berkat anak-anaknya yang merekah dan mekarlah yang menjadi daya tarik tersendiri yang sudah populer berkat liputan dadakan. Tapi beberapa jam setelah itu, hampir sebagian besar  anak-anaknya terinjak-injak. Banyak yang sekarat bahkan akhirnya tutup usia.

            Ngenes. Dua orang tua itu menyesal. Bibirnya mengkerut. Dalam hatinya ada gerutu. uang seratus juta itu menghancurkan anak-anak mereka yang menjadi penikmat suka dan duka demi membayar hutang.

 

CATATAN (Glosarium) :

Tenane1                    =          Benarkah

Mabur2                     =          Terbang

Kepiye3                    =          Bagaimana

Ben4                               =          Biarkan         

Ndak5                           =          Tidak

Sedulur6                 =          Saudara

Wong7                        =          Orang

Mbesengut8     =          Cemberut

Jleb9                              =          Sangat Menusuk

Ngenes10                 =          Menyedihkan

 

 

            ***Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, waktu dan peristiwa ataupun  cerita, hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan***

Like, Share, Kritik dan Saran (Komentar) sangat diperlukan guna meningkatkan kualitas karya di masa yang akan datang.

 

 

 Yogyakarta, 09 Desember 2015

 

 

A.     Dirham

 

0 Response to "BULAN BAHASA - CerPen "AMARYLIS ITU BERNAMA AYU""

Post a Comment