SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

“MEMBANGUN BUDI PEKERTI BANGSA YANG LUHUR”

 

A.   Masa Remaja yang Bergejolak

 

          Dewasa ini merupakan suatu keadaan yang sangat memprihatinkan yang saat ini tengah kita hadapi. Apabila kita memperhatikan kejadian-kejadian di kalangan remaja di zaman sekarang ini, begitu banyak remaja yang melakukan aksi demonstrasi tanpa mengetahui apa makna dan tujuannya. Di samping itu melakukan tindakan-tindakan yang bersifat kontra produktif dan anarkis, seperti perusakan fasilitas umum atau publik, pembakaran bendera, pembakaran foto presiden dan wakil presiden hingga pembakaran ban, bahkan rumah atau kantor-kantor dinas milik instansi pemerintah serta tindakan-tindakan yang sangat vulgar sekaligus arogan, dan yang lebih parah adalah aksi blokir jalan, dan masih banyak yang belum dapat disebutkan. Sungguh hal yang demikian menjadi tontonan yang amat buruk dan sangat mencemarkan, memalukan serta memilukan bagi semua pihak. Permasalahan ini bukanlah hanya persoalan yang mudah untuk diatasi sebab perlu adanya sebuah kesadaran yang amat tinggi dengan adanya kemauan dan kepedulian dari berbagai pihak.

          Dalam hal inilah, mengingat bahwa keluarga merupakan agen sosialisasi yang pertama dan utama,  dimana merupakan tempat anak berasal dan tempat seorang anak mengalami pendidikan awal atau dasar, maka sudah menjadi tanggung jawab kita bersama selaku orang dewasa hendaknya membentuk kepribadian anak dimulai dari kelompok kecil, yakni keluarga itu sendiri. Dalam permasalahan mengatasi kenakalan anak ataupun remaja, perlu adanya pencegahannya terlebih dahulu dan hendaknya diawali sedini mungkin oleh pihak keluarga. Maka, untuk mewujudkan kepentingan itu perlu diberikan informasi atau pengarahan kepada para calon orang tua atau yang sudah menjadi orang tua bagi buah hatinya serta para pendidik agar dapat memberikan bekal pengajaran yang sangat penting berupa pengenalan pendidikan keluarga dan tata krama, serta pembentukan karakter pada anak-anak dan remaja sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi insan yang bermoral dan berakhakul karimah.

 

 

B.   Problematika yang Dihadapi oleh Bangsa

 

          Dewasa ini, di Indonesia tercinta ini banyak timbul berbagai masalah mulai dari pelajar yang terlibat tawuran, kekerasan, kasus kriminal, pelecehan seksual, pemerkosaan, bahkan pejabat yang melakukan tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang seolah-olah memang sudah tidak dapat lagi dikendalikan. Hal ini sungguh sangat ironis dan memprihatinkan bukan? Mengapa hal ini bisa terus terjadi pada bangsa ini? Tidak sedikit pelajar yang seharusnya berkewajiban menjadi agen perubahan dan kontrol sosial malah terjerat dengan kasus-kasus tersebut sehingga menyebabkan bangsa ini menjadi miskin baik secara fisik maupun secara akhlak. Krisis moral yang terjadi semua ini disebabkan oleh kurangnya bekal pendidikan akhlak, karakter, moral dan budi pekerti bagi mereka.

 

 

C.   Landasan Pendidikan Karakter

                   Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas tersebut menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuham Yang Maha Esa, berakhlak luhur lagi mulia, sehat, berilmu, berpikir cerdas, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta memiliki tanggung jawab.”

                   Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itulah, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

 

D.   Fungsi Pendidikan Karakter Bangsa

                   Fungsi pendidikan karakter bangsa adalah :

1.     Pengembangan          :         Yang dimaksud pengembangan di sini adalah pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berprilaku baik. Ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa.

2.     Perbaikan                  :         Maksudnya adalah memperkuat, memperkokoh, memperteguhkan kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam rangka untuk pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat.

3.     Penyaring                  :         Menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

 

 

E.   Tujuan Pendidikan Karakter

 

1.     Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

2.     Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius.

3.     Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa.

4.     Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, produktif, berwawasan kebangsaan.

5.     Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas, bersahaja dalam persahabatan, serta dengan rasa kebangaan yang tinggi dan penuh kekuatan.

 

F.    Problem Copying

 

Dalam melaksanakan copying, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, sebagai berikuti ini :

a.     Confrontive Copying          :         Menghadapi keadaan dengan agresif dan bersikap keras atau marah untuk mengubah situasi (marah).

b.     Distancing                          :         Menghindar atau membatasi diri dengan sadar diri guna membuat jarak dengan permasalahan yang dihadapi (penolakan).

c.      Self Controlling                  :         Berusaha untuk mengatur perasaan diri sendiri dan tindakan yang akan diambil.

d.     Seeking Social Support      :         Berusaha untuk mencari dukungan informasi, dukungan nyata dan dukungan emosi.

e.      Accepting Responsibility    :         Mengakui peran dirinya dalam persoalan dengan tema yang sesuai dan memperbaiki keadaan (penerimaan)

f.       Escape – Avoidance :         Menjelaskan keinginan dan usaha untuk menghindar atau melepaskan diri dari problem (tawar-menawar)

g.     Planful Problem Solving     :         Dengan sengaja menjelaskan mengenai usahanya untuk mengubah keadaan, menggabungkan dengan pendekatan analisa untuk menyelesaikan masalah (penerimaan)

h.     Positive Reapprisal   :         Menjelaskan mengenai usahanya untuk maksud yang positif dengan memfokuskan pada pengembangan diri, biasanya sehubungan dengan dimensi religi.

 

G.  Solusi Pemecahan Problematika Bangsa

 

          Sering orang menganggap pendidikan agama dan pendidikan budi pekerti itu langkah yang dilakukan untuk membangun karakter kehidupan manusia. Namun, anggapan ini lebih tepat jika dikatakan mengajarkan atau memberikan pendidikan moral.

          Kata karakter, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari orang lain.

          Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun karakter adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa sehingga berbentuk unik, menarik dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain.

          Untuk membangun karakter atau membentuk karakter yang baik, perlu ditanamkan pada anak itu dasar-dasar yang kokoh. Sebagai pilar penunjang kepribadiannya agar kuat sehingga nantinya menjadi manusia yang benar-benar berkarakter baik.

          Dari hal-hal seperti yang sudah disebutkan di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai dasar-dasar membangun karakter antara lain adalah :

1.     Rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.     Rasa cinta kepada makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta.

3.     Rasa cinta terhadap sesama manusia dan cinta damai kepada siapa saja.

4.     Pendidikan yang memadai, formal maupun non formal.

5.     Disiplin terhadap waktu, tempat, dan peraturan yang ada.

6.     Rasa percaya diri dan Adil.

7.     Mandiri dan dapat bertoleransi.

8.     Baik dan rendah hati.

9.     Sikap bekerja keras dan Pantang Menyerah.

10.            Unik, Kreatif, Produktif dan Inovatif.

11.            Pengajaran yang Integratif-Interkonektif.

12.            Mampu beradaptasi dengan lingkungan.

13.            Mampu bekerja sama.

14.            Dermawan kepada siapa saja.

15.            Gemar melakukan pertolongan kepada siapapun.

16.            Jujur dan mempunyai komitmen.

17.            Memiliki rasa tanggung jawab.

18.            Sopan santun terhadap teman sebaya.

19.            Hormat pada orang yang lebih tua.

20.            Menyayangi kepada yang lebih muda.

21.            Kepedulian terhadap sesama.

 

Berdasarkan 6 pilar yang kemudian dirombak menjadi 21 pilar penyangga inilah, karakter

anak dapat dibagun sejak dini, terutama oleh pihak keluarga sebagai agen sosialisasi yang pertama dan menjadi utama dalam membentuk pola pikir, kepribadian dan karakter anak. Anak yang tumbuh di lingkungan orang-orang berkarakter baik akan memiliki karakter yang baik pula. Hal ini disebabkan oleh teladan atau contoh yang dilihat, dirasakan dan dialami sehingga proses itulah akan ditiru oleh si anak dan merupakan model bagi anak itu.

          Anak adalah pengingat yang terbaik walaupun seringkali menjadi ceroboh karena mengambil keputusan yang salah atau kurang tepat. Dalam hal pembentukan karakter, orang tua, sekolah dan komunitaslah yang paling bertanggung jawab. Orang pintar terlalu banyak, namun pintar saja belum cukup. Mengapa? Karena bangsa kita yang luhur ini bukan hanya membutuhkan orang yang pintar saja, melainkan membutuhkan orang-orang yang berkarakter baik.

          Anak perlu diberi bekal moral dan mental yang lebih berkualitas, berbobot, berkomprehensif sejak dini sebagai bekal untuk melanjutkan perjuangannya di tahap akhir dari fase ini, sehingga dalam memasuki masa remaja awal anak sudah lebih siap, mantap dan matang dalam menentukan langkah-langkahnya.

          Untuk memasuki dunia remaja, seorang anak memerlukan bekal-bekal sebagai berikut ini :

1.     Meningkatkan kecerdasan spiritual, emosional, moral, dan sosial.

2.     Meningkatkan tata krama sosial, kejujuran, kedisiplinan, dan budi pekertinya.

3.     Meningkatkan keuletan, kesabaran, dan kerja keras.

4.     Mengenal cara Problem Copying, menghadapi berbagai macam kesulitan.

5.     Mampu untuk menghadapi dan menangani rasa frustrasi.

6.     Meningkatkan toleransi terhadap frustasi.

                   Dengan mempunyai dasar pengertian untuk menghadapi permasalahan, maka remaja akan dapat lebih mementingkan diri dengan mengembangkan bekal yang diperoleh saat di sekolah menengah atau pada masa awal remaja.

 

H.  Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan Karakter

 

1.     Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari pendidikan nasional secara utuh.

2.     Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sebagai proses pembudayaan. Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh.

3.     Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orang tua. Oleh karena itu, perlu pelaksanaan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan keempat unsur tersebut.

4.     Dalam upaya merevitalisasi pendidikan dan budaya karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan.

                   Untuk itulah, kita perlu menyampaikan harapan, kiranya kaum cerdik cendikia dan    khususnya para ahli pendidikan dapat memikirkan berbagai alternatif solusi dalam memperbaiki sistem pendidikan nasional kita dan kinerja lembaga-lembaga pendidikan kita dalam arti sempit dan integrasi sistem pendidikan dalam arti luas dengan melibatkan semua aktor dan faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter bangsa.

 

Artikel ini dibuat berdasarkan sumber referensi atau berdasarkan eksperimen pengarang. Tak ada gading yang tak retak, ya begitulah sekiranya peribahasa yang sesuai dari blog sederhana ini. Tidak ada yang sempurna dan masih banyak kekurangan baik isi, informasi maupun apapun itu dari blog sederhana ini. Oleh karena itulah, blog sederhana ini membutuhkan Like, Share, Kritik dan Saran, Komentar yang membangun dan sangat diperlukan guna meningkatkan kualitas karya di masa yang akan datang. Terima kasih atas kunjungannya.

 

Yogyakarta, 15 Desember 2015

 

 

A.Dirham

NIM 154 900 25

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     

 

 

0 Response to " “MEMBANGUN BUDI PEKERTI BANGSA YANG LUHUR”"

Post a Comment