SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

“BUDAYAWAN GUNUNGKIDUL, MBAH TOMO BERPULANG”

Tangerang Selatan/Duniapengetahuandansastra.com/Berita Terkini – Dunia seni sekaligus hiburan tanah air kembali berduka atas meninggalnya Tomorejo bin Diposemito atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Tomo. Komedian, budayawan sekaligus seniman asal Gunungkidul itu wafat pada usia 79 tahun setelah sebelumnya sempat menjalani rawat jalan di kediamannya, Pondok Kacang Barat, Pondok Aren, Tangerang Selatan.

            Melalui akun facebooknya, Dirham Adenar (18), manajer Mbah Tomo, yang mempublikasikan berita kematian Mbah Tomo pada hari Jum’at, 18 Desember 2015 sekitar pukul 01:01 WIB yang intinya menyatakan duka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian kakeknya. Sayangnya, berita duka yang disampaikan melalui media jejaring sosial itu malah baru tersebar dua hari setelah berita resmi meninggalnya Mbah Tomo diberitakan.

            “Saya minta maaf, jika berita meninggalnya Mbah Tomo baru sempat disebar setelah dua hari ke jejaring sosial, pasalnya saya masih dalam keadaan berkabung,” ucapnya sedih.

            Menurut informasi dari pihak keluarga, Mbah Tomo dinyatakan meninggal dunia pada hari Rabu, 16 Desember 2015 sekitar pukul 03:00 WIB.  Seperti yang diutarakan oleh pihak keluarga bahwa Mbah Tomo meninggal setelah mengidap penyakit stroke yang telah lama dideritanya kurang lebih selama 6 tahun.

            “Penyakit stroke ini divonis dokter sejak tahun 2009 yang lalu,” tutur Dirham Adenar, manajer Mbah Tomo sekaligus cucu keduanya.

             Sebelumnya, pada bulan Maret 2015, kondisi kesehatan Mbah Tomo mulai sakit-sakitan hingga pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk mencari jalan alternatif, yakni menggunakan jalan pengobatan tradisional melalui perantara beberapa paranormal di kampung halaman beliau, yakni di Karangmojo, Gunungkidul. Namun, setelah mengundang sekitar tujuh paranormal di hari yang berlainan, kondisi Mbah Tomo justru melemah, bahkan sempat membuat geger masyarakat Desa Wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul dan sekitarnya setelah beredarnya kabar burung yang mengatakan bahwa Mbah Tomo telah meninggal dunia. Berita tidak resmi itu disebarluaskan dari mulut ke mulut tanpa adanya fakta yang jelas, atau bukti yang riil, tetapi secara pasti tidak ada yang tahu siapa yang pertama kalinya menyebarkan isu tersebut. Pihak keluarga yang berada di Gunungkidul pun membantah serta menyampaikan bahwa berita itu tidak benar juga mengimbau para warga desa agar tidak mudah terprovokasi atau percaya dengan keadaan atau berita yang menyesatkan.

            Dalam tempo setahun sebelum Mbah Tomo wafat, beliau tidak berpesan apa-apa atau tidak berwasiat apapun kepada sanak saudara apalagi kepada pihak keluarga. Tetapi pada bulan April, 2015  yang lalu, Mbah Tomo sempat meminta maaf kepada sanak saudaranya.

            “Mbah Tomo meminta maaf kepada Budiyo (48), anak ketiganya dan Taslimah (36), menantunya serta beberapa sanak famili yang lain."

             Selain itu, sebelumnya ada peristiwa yang sangat mencengangkan ketika bulan Desember, 2014 silam, yakni sebelum beliau pergi untuk selama-lamanya pada bulan Desember, 2015.

            “Sekitar bulan Desember tahun 2014 yang lalu, Mbah Tomo jatuh tersungkur hingga dahi, hidung dan bagian kepalanya tertusuk batu-batu hingga berdarah. Kejadian itu sempat mengegerkan warga setempat sebab Mbah Tomo berteriak histeris ketika darah telah mengucur deras.”

            “ Kejadian itu membuat saya menjadi panik, hingga saya berlari menuju kediaman tetangga dan meminta pertolongan. Sesampainya saya di rumah, para warga sudah mengerubungi rumah saudaranya Mbah Tomo itu,” imbuhnya.

            Pada saat itulah, salah seorang tetangga dengan sigap turun tangan guna mengelap darah yang masih mengucur di bagian dahi, hidung dan kepalanya menggunakan lap kemudian dibasahi dengan sedikit air.  Selain itu, beberapa warga juga cepat tanggap, ada yang membawa obat merah yang kemudian diteteskan ke bagian lukanya tersebut.

            Tak pelak, aksi seorang tetangga yang cepat tanggap dan merespon tentang keadaan tetangganya tersebut rupanya diapresiasi oleh Bupati Gunungkidul, Ibu Badingah. Selain itu, pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ngadirah, tetangga Mbah Tomo yang telah peduli dengan keadaan Mbah Tomo dengan cara mengelap luka dan meneteskan obat merah pasca Mbah Tomo bersimbah darah.

            Mbah Tomo sempat akan dilarikan ke rumah sakit, tetapi kala itu tidak ada biaya. Selain itu karena jarak dari desa ke rumah sakit yang relatif jauh. Sebagian warga Desa Wiladeg menyarankan agar Mbah Tomo segera dilarikan ke Pusat Kesehatan Daerah setempat (PUSKESDA) atau yang lebih dikenal warga sebagai Balai Pengobatan Desa.

            Ketika sampai di Balai Pengobatan Desa, dokter jaga atau mantri rupanya belum datang. Barulah sekitar lima belas menit, mantri datang dan langsung menangani pasien (Mbah Tomo). Kala itu, Mbah Tomo mengalami luka yang cukup serius hingga bagian dahi Mbah Tomo tersebut robek karena tusukkan batu yang tajam. Mbah Tomo dahinya robek cukup lebar yang kemudian dijahit sekitar tiga sampai lima jahitan. Bagian hidung dan kepala Mbah Tomo hanya dibersihkan dengan tisu atau sejenis kain putih. Sebelum dilakukan tindakan bedah atau jahitan, Mbah Tomo terlebih dahulu disuntik kebal terlebih dahulu agar tidak kesakitan saat menjalani proses tersebut.

            Ketika Mbah Tomo selesai dari pengobatan tersebut, Mbah Tomo langsung dibawa pulang ke tempat kediaman saudaranya dan istirahat di kamarnya, lalu disuguhkan beberapa makanan. Beberapa warga setempat berduyun-duyun mendatangi kediaman Mbah Tomo guna menjenguk beliau.

            Sebagai seorang tokoh masyarakat, Marto Lanang (87), atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Marto rupanya ikut menjenguk dan turut prihatin atas kejadian yang menimpa Mbah Tomo. Sebagai seorang tetangga yang baik, Mbah Marto rupanya menjenguk Mbah Tomo dan tak lupa memberikan sebuah nasihat agar Mbah Tomo lebih berhati-hati jika akan berjalan sebab tubuhnya yang sudah renta dan tidak muda lagi. Namun, biasanya Mbah Tomo jika hendak berjalan, beliau tidak lupa menggunakan tongkat untuk membantu menopang tubuh rentanya yang sudah membungkuk. Akan tetapi, pasca kejadian itu, menurut beberapa saksi mata, tidak ada tongkat di sekitar situ. Dugaan penyebab Mbah Tomo jatuh tersungkur adalah masih simpang siur. Dugaan yang pertama adalah saat beliau hendak berjalan keluar rumah, beliau tidak menggunakan bantuan tongkat saat berjalan. Sedangkan dugaan yang kedua, Mbah Tomo jatuh tersungkur karena mengantuk, pasalnya sehabis makan siang, Mbah Tomo duduk-duduk di teras rumah dan tidak beberapa lama setelah itu, tiba-tiba Mbah Tomo tersungkur cukup keras hingga beliau berteriak sekuat tenaga menyebut nama “Ya Allah” tetapi dalam bahasa jawa. Namun terlepas dari dugaan yang pertama dan kedua rupanya masih ada asumsi selanjutnya, yakni ada seseorang atau makhluk gaib yang menganjurkan Mbah Tomo. Jadi, tidak jelas penyebab tersungkurnya Mbah Tomo.

            Pariyem (56), tetangga yang dikenal cukup simpati ini pun mengucapkan prihatin atas kejadian tersebut dan tetap berada di lokasi kejadian sejak Mbah Tomo dikabarkan terjatuh hingga Mbah Tomo sudah pulang dari Balai Pengobatan Desa tersebut. Begitupun dengan Supiyem (67), saudaranya yang mengucapkan keprihatian melalui sambungan telepon.

            Simur (46), pemilik motor yang mengantarkan Mbah Tomo ke Balai Pengobatan Desa juga merasakan rasa bersedih yang sangat mendalam atas kejadian yang menimpa Mbah Tomo.

            “Saya segera datang bersama Budini (50), setelah ditelepon oleh Dirham,” ujarnya.

            Tepatnya tanggal 22 April, Pihak keluarga membawa Mbah Tomo ke Pondok Kacang Barat, Pondok Aren, Tangerang Selatan untuk dirawat oleh pihak keluarga di sana. Meskipun demikian, sesudah itu Mbah Tomo pernah dibawa ke Meruya Selatan, Jakarta Barat untuk dirawat oleh sanak saudaranya yang ada di sana. Lalu, sekitar awal bulan Desember 2015, Mbah Tomo kembali dirawat jalan di Pondok Kacang Barat, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Namun sayang, Mbah Tomo kritis pada 13-15 Desember 2015 hingga pada akhirnya di pertengahan bulan Desember 2015 lalu, yakni pada tanggal Rabu, 16 Desember 2015 sekitar jam 03:00 WIB, Mbah Tomo menghembuskan nafas terakhir.

             Kepergian Mbah Tomo meninggalkan tiga orang anak dan lebih dari empat orang cucu. Ketika berita kematian Mbah Tomo disebarluaskan, hanya dua anaknya bersama tiga orang cucu yang hadir pada saat itu. Selain itu rupanya, dua menantunya juga turut hadir dalam prosesi pemakaman beliau.

            Mbah Tomo dikenal oleh masyarakat sebagai figur yang rela hidup prihatin dalam kesederhanaan. Beliau tidak banyak meminta ini-itu dan tidak pernah mengeluh tentang perihnya keadaan.

            Setelah jenazah Mbah Tomo, dimandikan, dikafani dan dishalatkan, kemudian lekas dimakamkan sebelum masuk waktu salat Zuhur pada Rabu siang, tanggal 16 Desember 2015. Pihak keluarga terus terang merasa sangat terpukul atas kepergian Mbah Tomo.

            Ucapan belasungkawa pun bertaburan begitu banyaknya yakni melalui media sosial, SMS, dan telepon atau langsung ditujukan kepada pihak keluarga. Sanak saudara Mbah Tomo pun mengucapkan hal serupa, termasuk para tetangga.

            Semua pihak ikut mendoakan semoga Mbah Tomo meninggal dalam keadaan yang “Khusnul Khatimah” (Meninggal dalam keadaan yang baik di akhir), diberikan tempat yang layak di sisi-Nya, diampuni segala dosa-dosanya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran dan ketabahan. Amin.

(Sumber : Berita Terkini)

                        Berita terpercaya ini dibuat berdasarkan beberapa sumber terpercaya. Tidak ada gading yang tak retak, ya begitulah sekiranya peribahasa yang sesuai dari blog sederhana ini. Blog ini jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan baik dari segi isi, materi, maupun informasi, dari blog sederhana ini. Oleh karena itulah, blog sederhana ini membutuhkan Like (Suka) maupun komentar yang berupa Kritik dan Saran yang membangun guna meningkatkan kualitas berita di masa yang akan datang. Terima kasih atas kunjungannya.

                        Jika anda ingin menjadikan tulisan berita terpercaya ini sebagai bahan referensi anda, jangan lupa mencantumkan sumbernya.

 

1 Response to "“BUDAYAWAN GUNUNGKIDUL, MBAH TOMO BERPULANG”"

  1. Assalamualaikum senang sekali saya bisa menulis dan berbagi kepada teman-teman disini. barangkali ada teman-teman yang sedang kesulitan masalah keuangan. Sebulan yang lalu perusaan percetakan saya dirundung hutang yang cukup besar. Hal itu di akibatkan melonjaknya harga kertas dan tenaga upah yang harus saya bayar kepada para karyawan saya. Sementara itu beberapa tender yang nilainya cukup besar gagal saya menangkan. Akibatnya saya harus menjaminkan mobil saya saya untuk meminjam hutang dari bank. Namun hal itu belum cukup menutup devisit perusaan. Bahkan pada akhirnya rumah beserta isinya sempat saya jaminkan pula untuk menutup semua beban hutang yang sedang dilanda perusaan. Masalah yang begitu berat bukan mendapat support dari istri justru malah membuat saya bersedih bahkan sikapnya sesekali menunjukan rasa kecewa. Hal itu di sebabkan semua perhiasan yang sempat saya hadiahkan padanya turut saya gadikan. Disaat itulah saya sempat membaca beberapa situs yang bercerita tentang solusi pesugihan putih tanpa tumbal dan akhirnya saya bertemu dengan Kyai Sukmo Joyo. Kata pak Kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan penarikan uang gaib 5milyar dengan tumbal hewan. Tanpa pikir panjang semua petunjuk pak.kyai saya ikuti dan hanya 1 hari. Alhamdulilah akhirnya 5M yang saya minta benar benar ada di tangan saya. Perlahan hutang-hutang saya mulai saya lunasi. Perhiasan istri saya yang sempat saya gadaikan kini saya ganti dengan yang lebih bagus dan lebih mahal harganya. Dan yang paling penting bisnis keluarga yang saya warisi tidak jadi koleps. Jika ingin seperti saya. Saya menyarankan untuk menghubungi kyai sukmo joyo di 0823.9998.5954 situsnya www.sukmo-joyo.blogspot.co.id agar di berikan arahan

    ReplyDelete