SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

BULAN BAHASA - CerPen "ASYIKNYA BERMAIN DENGAN SI PUTRI MALU"

Sepulang sekolah Dita bermain bersama teman-temannya. Kebetulan hari itu Dita tidak ada PR dari bu guru, makannya ia bermain di kebun milik Pak Otong bersama Ane dan Wildan. Untung saja Pak Otong mengizinkan mereka. Dita sangat senang sekali bisa bermain dan memetik bunga-bunga yang indah. Disitu juga banyak terdapat tanaman berduri dan warnanyapun bermacam-macam. Ada yang merah muda, coklat, hijau, dan biru juga ada yang berbuah. Rasanya manis bila dicicipi, tapi ada pula yang rasanya asam. Dita tidak suka buah yang asam karena gampang sakit perut, tapi ia sangat senang berlama-lama di kebun milik ayahnya Nadia itu.

Seperti biasa, mereka main petak umpet. Selama mereka asyik bermain, Dita merasa heran karena merasa ada yang kurang. Oh y, ia baru ingat karena dari tadi tidak melihat Nadia bermain di sini. Mungkin saja Nadia sedang pergi bersama mamanya. Tapi mana mungkin mereka pergi, kan selama seminggu ini mama Nadia lagi kerja di luar negeri. Dita berpikir sebentar, kenapa teman satunya itu tidak bermain. Daripada penasaran, Dita pun bertanya kepada Ayahnya Nadia.

“Oh, ya. Ngomong-ngomong Nadia ke mana, ya Pak?” tanya Dita sambil garuk-garuk kepala karena keheranan.

“Oh, Nadia. Dia sedang sakit. Sekarang dia sedang istirahat di rumah,” kata Pak Otong.

“Kalau begitu boleh ya Pak, kami menjenguk Nadia?”

“Boleh saja, tapi jangan berisik ya!”

Dita dan teman-temannyapun langsung masuk ke dalam rumah Nadia. Kemudian mereka masuk kamar melihat keadaan Nadia. Ditapun tak menyangka kalau Nadia harus tergolek lemah karena sakit yang ia derita. Selama sakit tentu saja Nadia begitu kesepian dan sangat bosan di rumah. Sakit itu tidak enak. Memang sih, kesehatan itu mahal harganya. Waktu kemarin saja dokter menjelaskan kalau Nadia hanya sakit demam. Jadi Nadia harus istirahat di rumah sampai sakitnya benar-benar sembuh.

Setelah Nadia minum obat, Ane dan Wildanpun membisikkan ke telinga Nadia. Mereka mengajak Nadia untuk bermain bersama. Sesampainya di kebun, Nadia minta izin pada ayahnya. Awalnya menolak karena Nadia masih sakit, meskipun begitu akhirnya diperbolehkan.

“Tapi jangan lama-lama, ya!” kata Pak Otong sambil tersenyum.

“Horee!!” teriak teman-teman bersuka ria bermain bersama.

            Ketika kami jalan-jalan di sekitar kebun, Nadia duduk di kursi sambil menangis. Ane dan Wildan cepat-cepat mendekati Nadia, begitupun dengan Dita sampai kakinya keseleo gara-gara berlari kencang.

“Au...”

Oh, rupanya Nadia menangis karena kakinya tertusuk duri Putri Malu. Di kebun Pak Otong memang banyak sekali gulmanya, termasuk tumbuhan Putri Malu. Untung teman-temanku tanggap. Mereka cepat mencabut duri dan membalut luka dengan kain perban. Nadiapun tidak menangis lagi. Kali ini ia lebih ceria bermain bersama.

Sampai menjelang sore mereka bermain bersama si Putri Malu itu.

“Sebaiknya tanaman itu dicabut saja, nanti durinya kalau kena kalian bagaimana?” Ayah Nadia menasihati

“Ayah, jangan ya. Kami masih membutuhkan si Pemalu ini. Lihat Yah, daun-daunnya menguncup tuh. Cantik sekali kan?”

Ayah hanya tersenyum dan mengelus rambut Nadia

Akhirnya Pak Otongpun membiarkan anaknya bermain lagi bersama si Putri Malu. Nadiapun terlihat sangat senang sekali bisa bermain lagi. Teman-temannya, termasuk Dita juga sangat sayang pada Nadia. Sekarang Nadia sudah sembuh.

“Eh, gimana kalau kita beli pot?” Dita bertanya pada teman-temannya.

“Terus, tanamannya apa, Dit?”

Ditapun berpikir, begitupun dengan teman-temannya.

“Ah, bagaimana kalau tanaman Putri Malu?”

“Boleh juga tuh!”

Dita, Nadia, Ane dan Wildanpun sepakat untuk menanam si Putri Malu dan dijadikannya tanaman hias. Merekapun membawa pot, cangkul kecil dan tanaman Putri Malu itu.

Sore itupun mereka pulang ke rumah masing-masing. Ditapun sibuk menanam si Putri Malu di halaman rumah dan sisanya ia pajang menggunakan pot yang ukurannya bervariasi. Dengan hati-hati Ditapun segera meletakan pot yang berukuran kecil itu di depan kamar mandi, sedangkan yang sedang ia letakkan di ruang tamu dan yang besar diletakkan di teras rumah.

“Hmm... menyenangkan sekali ya menanam tanaman Putri Malu,” ujar Dita sambil bernyanyi-nyanyi.

“Kamu menanam si Putri Malu, ya?”  Mama sudah berdiri di belakangku sambil tersenyum.

“Ia Ma, biarkan ya. Aku senang sekali kalau tanaman itu dijadikan pajangan. Bukankah indah kan?

“Tapi...em... Tanaman itu lebih baik kamu letakkan di jendela saja.”

“Oh, iya. Aku lupa, Ma.. hahahaha,” kata Dita sambil tertawa riang juga tak lupa menepuk jidatnya.

Pagi harinya Dita terbangun, lalu segera ia hampiri jendela itu. Dita begitu terkejut melihat tanaman Putri Malu itu daunnya mekar, begitupun dengan bunganya yang berwarna merah muda. Dita segera membawa pot itu ke Ibunya.

“Ma... Putri Malunya mekar. Lihat, cantik kan Ma?”

“Iya, cantik sekali. Kamu hebat Dita!” kata Mama sambil mengacungkan jempol.

Kebetulan ini hari Minggu, Dita dan teman-temannya bermain bersama. Kali ini adayng berbeda, karena mereka bermain tidak di kebun Pak Otong lagi, melainkan bermain bersama si cantik yang pemalu ini. Dita pun kemudian menyediakan krayon warna-warni dan beberapa kertas gambar berukuran sedang.

Dita bersama teman-temannya pun lalu menggambar si Putri Malu itu. Dita merasa senang sekali. Ia seperti menjamu temannya untuk belajar menggambar. Dita tak pernah membayangkan akan seriang ini.

 Begitulah cerita Dita bermain bersama-sama dengan si Putri Malu yang ternyata sangat mengasyikan. Wah, kalau bermain sambil belajar itu menyenangkan. Kapan ya, kira-kira kamu seperti Dita bersama temannya.

 

 

Jakarta, 31 Januari 2016

 

 

A.DIRHAM

NIM 154 900 25

0 Response to "BULAN BAHASA - CerPen "ASYIKNYA BERMAIN DENGAN SI PUTRI MALU""

Post a Comment