SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

BULAN BAHASA - CerPen "BOM JAKARTA MASIH ADA?"

            Sarinah mendadak terkenal di jagat raya berkat bom yang menguncang Starbucks Coffe dan sekitarnya. Ajaibnya, empat teroris mati konyol di tempat kejadian. Polisi masih menyelidiki kasus ini untuk mendalami lebih lanjut siapakah dalang dari semua ini. Lalu, bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Apakah bom selanjutnya masih akan terus terjadi? Langsung saja saya ceritakan kepada anda.

            Sebenarnya 7 tahun yang lalu, kasus bom seperti ini juga pernah terjadi di Jakarta tepatnya di Hotel JW.Marriot dan Ritz Carlton. Ketahuilah, teroris yang dulu berbeda dari yang sekarang. Teroris di sekitar kita sekarang ini rupanya lebih berakal bulus ketimbang dugaan kita sebelumnya. Kau pasti menduga teroris tentu berpakaian gamis dan berjenggot pula, namun pada kenyataanya tidak demikian. Sekarang, kau akan tahu bagaimana tampilan busana mereka lebih trendy.  Di tahun inilah, semua terkejut menyaksikan teroris yang menyamar sebagai rakyat jelata yang mengenakan kaos hitam, topi dan bercelana jeans lengkap dengan tas ransel seperti dalam drama di film-film atau di bioskop-bioskop kesayangan anda.

            Ketahuilah, para teroris rupanya cukup mahir memainkan peran sebagai algojo yang konyol. Buktinya mau bunuh diri saja, harus cari sensasi dan jadi eksekutor pula bagi dirinya sendiri. Kalau sudah begini, tentulah meresahkan ekosistem negara dan membuat gempar bukan hanya dunia nyata, melainkan dunia maya dan gaib sekalipun.

            Teroris pun cukup canggih melengkapi senjata untuk melancarkan aksinya dan berjaga-jaga seandainya terkepung oleh densus 88. Mereka akan menodongkan senapan api. Lalu tanpa ampun membombardir sasaran. Jika sudah dalam keadaan darurat, terkepung, terancam dan dirasa membahayakan harga diri, maka langsung saja mereka mengeksekusi dirinya sendiri.

            Ketika polisi dan teroris saling baku tembak, pastinya kejadian itu berlangsung sengit. Di sela-sela kejadian tersebut, aku tidak sengaja mendengar naluri seorang polisi yang bergumam, “Tembaklah, maka kau akan dapat menyelamatkan ribuan, bahkan jutaan umat manusia.”

            Tidak segan-segan polisi menembak teroris dengan taktiknya. Polisi juga butuh perhitungan dalam menembak musuhnya, takutnya salah sasaran malah menimbulkan korban jiwa yang bukan pada tempatnya.

            Aku adalah seonggok gedung yang menyaksikan detik-detik aksi beringas teroris melawan polisi. Sejak kedatangan teroris itu hingga ajalnya tiba, aku dengan cermat menyaksikan tragedi tersebut. Walaupun aku adalah saksi bisu yang tidak dapat bergerak, tetapi aku bisa melihat, merasakan sekaligus mendengar aksi itu.

            Kagetnya aku jangan ditanya lagi. Begitu bom meledak, kaca-kaca yang melekat di tubuhku, kini pecah tinggal serpihan. Aku sempat tergoncang seperti ingin tumbang ke arah mana saja, tetapi aku masih memikirkan nasib orang-orang di bawahku yang menyaksikan kejadian itu. Jika aku tumbang, maka bukan tidak mungkin mereka akan menjadi korban.

            Aku terluka, sayang. Wajahku hanya melelehkan air mata. Seandainya aku tercipta sebagai manusia, tentu aku akan segera menjauh saat granat terhempas ke arahku. Tapi sudahlah, kawan, aku hanya seonggok gedung yang tak bisa apa-apa. Biarlah aku harus terluka, asalkan para warga sipil selamat. Tapi doaku tidak seindah harapan – kawan – buktinya dua warga sipil yang tak berdosa itu jiwanya telah melayang jauh ke angkasa bertemu Tuhannya.

            Di dalam tubuhku ada berjuta rasa sesak. Starbucks Coffe ikut rusak, kacanya pecah berat menimbulkan serpihan luka yang teramat perih bagi Indonesiaku. Aku tak mengerti dengan para teroris yang tidak berperi kemanusiaan itu.

            Sebelum asap bom mengepul ke udara, aku masih dapat mendengar detik-detik terakhir percakapan para teroris. Awalnya suara itu terdengar jelas, tetapi semakin lama terdengar semakin samar, bahkan sampai suara itu ibarat gesekan dedaunan.

            “Kau mau membombardir daerah yang mana?” tanya seorang teroris yang kuinisialkan bernama Ahmad Muhazan.

            “Diam!”

            “Kita mengendap-endap dulu di sini, coy, nanti kalau diperintahkan oleh sang dalang, barulah siap-siap menghempaskan bom.”

            “Hoi, apa nanti kita harus mati?” tanyanya lagi.

            “Ya! Buat apa kau hidup ketika media massa sudah menyorotmu, dasar bodoh!”

            “Iyuh, dasar tolol, mau ditaruh di mana mukamu jika warga dunia tahu bahwa kau adalah seorang yang somplak. Lagipula nanti kau pasti akan mati!”

            “Hai, hukuman di negeri kita ini tidak lain adalah eksekusi mati bagi teroris yang tertangkap basah oleh polisi,” ucap yang lain.

            “Jangan jadi pecundang!”

            “Lalu, bagaimana nasib keluargaku jika aku harus mati tinggalkan dunia?”

            Semuanya bergeming ketika pertanyaan Ahmad Muhazan itu mengudara. Wajah polos mereka seperti dirasuki rasa sesal, tetapi mereka sudah terlanjur dicuci otaknya oleh sang dalang sehingga mereka tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

            “Oh, so..al.. it..u urusan belakangan, coy!”

            “Lalu, bos, nanti kalau kita mati, tentu perbuatan kita ini akan disidang pula, kalau bukan di dunia, tentulah di akhirat kelak. Kalau kita masuk neraka, bagaimana? Jika Tuhan tidak mau memaafkan kita dan jika ruh kita dicabut dengan keadaan yang tidak baik bagaimana?”

            Wajah ketiga teroris itu kelihatan pucat pasi, begitupun dengan si Ahmad Muhazan yang baru saja mengingatkan tentang kematian. Mereka seperti disergap rasa berdosa, nanar, takut-takut ruh mereka tidak bisa menuju surga karena divonis di pengadilan akhirat telah melakukan perbuatan membunuh manusia dan membunuh dirinya sendiri.

            Detik demi detik, empat teroris itu masih berpikir keras untuk mengurungkan niatnya membombardir Sarinah, tetapi barangkali tidak dapat mengetuk pintu hatinya yang sudah terlanjur mengeras seperti batu bahkan lebih keras daripada itu. Sampai jam menunjukkan pukul 10:38 WIB mereka tetap berceloteh sendiri satu sama lain tentang perkara mati yang akan mereka rasakan nantinya jika polisi berhasil mengepung mereka. Sebagian mereka masih takut dosa, namun sebagian yang lain masih mengabaikan perkara dosa. Satu diantara mereka yang bernama Muhammad Ali akhirnya melontarkan pemikiran. Kita sebut saja Muhammad Ali dengan nama samaran Bos Amirul.

            “Semuanya, baris di tempat gerak. Siap gerak!” begitulah aba-aba yang diberikan oleh Bos Amirul.

            “Dengarkan, kita tidak boleh terpengaruh masalah kematian, toh jika kita mati itu adalah takdir. Jangan jadi pecundang seperti si Muhazan ini. Cuh,” tambahnya lagi sambil membuang air liur yang masih menggumpal di sekujur mulutnya sampai ingusnya keluar.

            Mendengar Bos Amirul berbicara seperti itulah membuat semua tergelak, kecuali Muhazan. Merasa dirinya dipermalukan, membuat  Muhazan geram. Ahmad Muhazan atau kita inisialkan Muhazan ini sontak berlari menuju gerai Starbucks Coffe lewat pintu samping.

            Sebut saja Aldi Tardiansyah (AT) yang tiba-tiba dipeluk Muhazan. Ia merupakan security yang kebetulan sedang menjalankan piket patroli di lokasi kejadian.

            “Aku peluk ya kamu, say,” kata Muhazan.

            “Apa-apan sih!”

            “Nih, aku buka baju, ya. Jangan kaget ya, say!”

            Ternyata di tubuh Muhazan telah terpasang bom, lengkap dengan tetek bengeknya.

            “Hus, menghindar kau dari sini! Lepaskan saya! Lepaskan saya! Lontong, Tolong!” begitu teriaknya sambil berusaha berlari sekuat tenaga.

            Namun nahas, baru selangkah berjalan, tiba-tiba saja bom meledak tepat pukul 10:39 WIB tanpa diberi aba-aba dari sang dalang. Muhazan tega meledakkan diri di gerai Starbucks Coffe, Menara Cakrawala.

            “Ya Allah, tolonglah aku. Aku baru saja terpental hingga 10 meter. Aku menghantam kaca hingga lengan kiriku terluka dan serpihan kaca menempel di tubuhku. Oh, selamatkan diriku Ya Allah. Aamiin.”

              Selain Muhazan, seorang warga negara Kanada keturunan Aljazair tewas di tempat kejadian dengan keadaan yang mengenaskan. Semua penghuni gedung terkejut luar biasa, teriakan histeris pun terdengar sangat kuat. Petugas keamanan bergegas menyisir kejadian.

            “G*blok, dia apa mau mati konyol?” tanya Bos Amirul sambil menempeleng kepala Afif.

            Sontoloyo, main tempeleng-tempeleng kepala orang. Kepala saya difitrahi, Bos. Kepala saya bukanlah bola yang bisa diapain aja. Bukannya tadi Bos yang bilang bahwa kita harus mati. Kenapa Bos malah tempeleng kepala saya? Dasar bl*ngsak kamu Bos, seharusnya kepala Muhazan noh yang kamu tempeleng!”

            “Yaelah, sensitif banget kamu, coy!”

            “Cay-coy, cay-coy. Saya punya nama!”

            “Ya, tapi si Muhazan g*blok dah!”

            “Terus apa masalahnya sama saya?”

            Bos Amirul terdiam, ia merasa bersalah juga. Ia memandang lama anak buahnya itu. Begitupun sebaliknya si Afif terlanjur kesal dan rasanya ingin menempeleng Bosnya itu.

             “Kampret. Ya, nanti atuh. Kumaha urang teh!” gurau Bos Amirul.

            Tiba-tiba pascaledakan, petugas keamanan berkerumun dan berlarian menyisir asal suara ledakan, mereka mencurigai bahwa tiga orang yang ada di dekat lokasi bom itulah yang merupakan biang keladi dari bom yang baru saja terjadi.

            “Hai, kalian, jangan lari! Cepat angkat tangan! Atau kalian mau mati ditangan kami!” teriak beberapa petugas keamanan.

            Semua teroris itu langsung lari tunggang langgang, kecuali Bos Amirul dan Afif. Bos Amirul langsung menodongkan senjata api laras panjang ke arah petugas keamanan. Sementara Afif tidak melancarkan aksinya, ia sebagai anak buah hanya tunduk dan patuh kepada bosnya. Mengetahui orang dihadapannya itu membawa senapan api, para petugas keamanan itu sontak berteriak, “Tolong...tolong....tolong!”

            “Diam!” pekik Bos Amirul.

            Dua teroris yang lain diberikan kode-kode oleh Bos Amirul untuk segera menyerang daerah pertahanan petugas kepolisian, tepatnya di dekat perempatan Jalan MH.Thamrin. Demi mematuhi perintah Bos Amirul, kedua teroris itu langsung membumihanguskan pos polisi dengan granat tepat pukul 10:40 WIB. Seorang pelaku teroris yang bernama Dian, langsung tewas terpanggang bom. Selanjutnya seorang warga sipil dan satu polisi akhirnya menyusul Dian ke alam baka dan beberapa polisi dilaporkan luka-luka.

            Setelah bom kedua meledak, selanjutnya Bos Amirul dan Afif berlari ke perempatan Jalan MH.Thamrin, namun dihadang oleh salah seorang polisi yang bernama Briptu Ridho. Bos Amirul yang datang menyusul para anak buahnya itu menghadapi Ridho bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan senapan api.

            “Cepat mundur dari sini atau kami tembak!” ancam Bos Amirul.

            “Hai, angkat tangan kalian! Serahkan diri kalian kepada kami!”

            “Langkahi mayatku dulu!” tantang Bos Amirul dengan tatapan melotot sambil bertolak pinggang.

            “Oke, siap! Ciaaa...”

            “Dooor....”

            Darah segar mengucur deras dari dada sebelah kiri Ridho. Para warga berteriak histeris, sebagian warga menghampiri polisi itu guna cepat-cepat melarikannya ke rumah sakit.

            Para warga membanjiri lokasi tersebut, ada yang berupaya mengabadikan momen tersebut dengan ponsel masing-masing, bahkan penjual sate dikabarkan muncul di tengah-tengah kerumunan warga.

            “Duar...Duar” dua peluru ditembakkan langsung dari senapan api milik Afif, sebuah peluru nyasar mengenai seorang warga sipil, bernama Rais, sedangkan satu peluru yang lain akhirnya mengenai polisi.

            Tiga polisi lalu lintas segera menantang gembong teroris itu. Tak beberapa lama setelah itu, empat rekan polisi juga datang di lokasi dan ikut mengancam serta baku tembak dengan pelaku. Semua polisi lalu lintas itu tidak mengetahui kalau ledakan bom sebelumnya juga ternyata tejadi di gerai Starbucks Coffe, Menara Cakrawala.

            “Lapor! Komandan! Jakarta darurat, apa sebaiknya kita blokade jalan MH.Thamrin?”

            “Blokir cepat!”

            “Siap laksanakan!”

            Jakarta makin mencekam. Darurat teroris. Blokir jalan dilakukan oleh polisi empat menit setelah bom yang kedua meledak. Jalan MH.Thamrin ditutup dari dua arah yang berlawanan.

            “Woi, teroris, jangan lari kau!” teriak salah satu anggota polisi.

            Empat menit kemudian setelah polisi berhasil memblokir jalan, tiba-tiba polisi dikejutkan dengan dua orang yang keluar dari arah Starbucks Coffe dekat tiang listrik, lalu menyeberang guna ingin meledakan bom kembali.  Dua orang itu diduga teroris sebab gerak-gerik mereka yang mencurigakan. Namun, mereka itu tahu bahwa di depannya ada dua orang polisi.

            Satu dari dua orang teroris itu tidak lain bernama Afif yang dengan gagah berani menyerang polisi, sedangkan yang satunya lagi mengarah ke Menara Cakrawala, kemudian masuk ke dalam gerai Starbucks Coffe.

            “Duar...duar..”

            Seketika dua orang polisi tertembak. Darah segar pun mengucur deras. Kedua polisi itupun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

           

            Kemudian, satu orang yang lain tidak lain adalah Bos Amirul yang kembali menuju ke Starbuck Coffe. Di tempat tersebut terdapat dua orang warga negara asing sedang ketakutan.

            Barulah pada pukul 10:58 WIB, aksi tembak menembak dilakukan oleh dua kubu, polisi dan teroris. Selama aksi itu berlangsung, rupanya memakan waktu sebelas menit.

            Dalam aksi tembak menembak itu, ledakan bom yang ketiga terdengar hingga radius 2 kilometer yang langsung dilempar ke arah mobil polisi, disusul bom yang keempat yang diarahkan ke petugas kepolisian.

            Detik-detik terakhir, Afif dan Bos Amirul meledakkan bom yang kelima. Baku tembak masih terjadi. Selang beberapa detik, Afif akhirnya gugur lantaran ditembak polisi, sedangkan Bos Amirul alias Muhammad Ali sebagai teroris konyol yang paling terakhir tewas setelah bom yang keenam menghajar tubuhnya.

            Semua teroris Sarinah dan sekitarnya diklaim sebagai simpatisan Islamic State Iraq and Surian (ISIS). Akankah kasus teroris masih akan terus terjadi? (*)

 

***Sebenarnya cerita ini hanya fiktif belaka, namun dikemas menjadi sebuah berita. Perlu diperhatikan: Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, waktu dan peristiwa ataupun  cerita, hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan***

Like, Share, Kritik dan Saran (Komentar) sangat diperlukan guna meningkatkan kualitas karya di masa yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Jakarta, 23 Januari 2016

                       

                       

                       

A.     Dirham

 

1 Response to "BULAN BAHASA - CerPen "BOM JAKARTA MASIH ADA?""

  1. Saya sangat berterima kasih banyak MBAH RAWA GUMPALA atas bantuan pesugihan dana ghaib nya kini kehidupan kami sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ternyata apa yang tertulis didalam blok MBAH RAWA GUMPALA itu semuanya benar benar terbukti dan saya adalah salah satunya orang yang sudah membuktikannya sendiri,usaha yang dulunya bangkrut kini alhamdulillah sekaran sudah mulai bangkit lagi itu semua berkat bantuan beliau,saya tidak pernah menyangka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan kebaikan MBAH,,bagi anda yang ingin dibantu sama MBAH RAWA GUMPALA silahkan hubungi MBAH di 085 316 106 111 insya allah beliau akan membantu anda dengan senang hati,pesugihan ini tanpa resiko apapun dan untuk lebih jelasnya buka saja blok MBAH PESUGIHAN DANA GHAIB


    ReplyDelete