SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

MAKALAH FILSAFAT BARAT DAN POSTMODERNISME

 M A K A L A H

TERJEMAHAN BUKU INTODUCING PHILOSOPHY

KARYA DAVE ROBINSON DAN JUDY GROVE

ICON LIMITED Reprinted 2001

                                                                                                            

“KONSTRUKSI FILSAFAT BARAT DALAM DOGMATISME SINIS DAN SKEPTIS”

 

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Umum

Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, M.S.I

 

Disusun Oleh :

Adenar Dirham (15490025)

 

Kelas : A

 

PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2015/2016

 

 

A.    Latar Belakang

 

            Dalam berfilsafat kita harus mengetahui apa itu filsafat? Kegunaan filsafat dan makna dari filsafat yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan retoris. Dalam hal ini misalnya kita bertanya apa itu filsafat? Siapa yang menciptakannya? Di mana filsafat itu awalnya berkembang? Kapan filsafat itu lahir? Mengapa filsafat itu ada? Bagaimana filsafat itu dapat berkembang hingga saat ini? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu seringkali muncul di benak kita bagi kita yang masih awam dengan filsafat.

Melalui buku berjudul Introducing Philosopy karya Dave Robinson dan Judy Groves yang diterbitkan oleh Icon Books UK dan Totem Book USA cetakan ke-3 tahun 2001, kita akan banyak mengenal dan mengetahui bahwa filsafat Barat dibagi menjadi empat periode. Periode Pertama adalah Ancient Phylosophy yang dimulai 600 SM hingga 450 SM. Era ini meliputi Yunani, Hellenistic dan Roma. Periode Kedua adalah Medieval Phylosophhy yang meliputi Patristik dan Skolastik yang dimulai 450 hingga 1550 M. kemudian, Periode Ketiga adalah era Modern yang dimulai 1550 hingga 1900 M. periode terakhir adalah Posmodornisme yang dimulai dari 1900 hingga sekarang.

A.    Pembahasan

Filsafat Barat Modern memiliki ciri khas akan kesadaran bahwa rasionalitas lebih baik dari pada doktrin Kristen yang membingungkan. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran dari Gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia.[1] Aliran ini memiliki system epistemology yang radikal dan sangat anti pada dogma-dogma. Terdapat beberapa aliran dalam filsafat Barat Modern: Rasionallisme (Descartes, Spinoza, Laibniz, Pascal); Empirisme (Hobbes, Lock, Berkeley, Hume); Kritisisme (Kant); Idealisme (Hegel, Schelling, Fitche); Materialisme (Feurbach, Marx); Positifisme, dan lain-lain.

Salah satu dalam pandangan Filsafat Barat Modern adalah Skeptics dan Synics. Mengenai Sceptics, sebenarnya bisa dikatakan sebagai orang yang ragu-ragu atau bimbang. Hal ini sebenarnya dalam penggambaran filosofis. Pada dasarnya Skeptics yakni seseorang yang mengharapkan kehidupannya bisa menjadi yang lebih baik. Artinya, mereka meyakini bahwa ada harapan yang lebih baik di hari esok. Namun ironisnya, mereka mengatasi masalah dengan masalah. Artinya, yang mereka tawarkan adalah solusi yang tidak relevan ataupun kurang atau bahkan tidak bijaksana.

            Pandangan Skeptics merupakan sebuah pemikiran yang lahir dari Pyrrho (c.360-272 B.C.) yang mengajarkan bahwa Skeptics tidak bijaksana untuk percaya pada apapun.[2] Meskipun sebenarnya skeptis ini bermakna baik, namun secara tindakan ada hal khusus yang tidak dapat dijadikan hal ini sebagai pedoman, bahan ataupun pijakan awal dalam hal mengatasi atau memecah jalan keluar dari permasalahan-permasalahan yang ada. Walaupun ada pemikiran yang menunjuk kepada sebuah pengharapan agar kehidupannya bisa menjadi kehidupan yang baik, namun di sisi lain terdapat hal yang tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya. Ada sebuah tindakan yang harusnya dilakukan secara tegas, namun berbanding terbaik.

            Ketika berpegang teguh pada pola Skeptics ini sebenarnya akan menjerumuskan seseorang kepada ketidaktegasan karena implementasi dari kehidupan ini adalah menjadi manusia yang tegas bukan peragu dalam melangkah atau mengambil suatu keputusan. Aliran ini dianggap keliru dalam menyangkut kehidupan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak? Suatu kejadian dalam pola ini dikatakan tidak berdasar atas perkataan dengan tegas, pasti, nyata, terang dan jelas.

            Demi melihat sisi yang lain, kita dapat mengamati ataupun menghayati bahwasanya kearifan dalam pola pandangan Skeptics seolah-olah hanya terdapat pada awalnya saja, misalnya meyakini bahwa kehidupan ini berputar ibarat roda dan mereka selalu mengharapkan agar roda kehidupan mereka selalu mengalami hal yang didambakan, yakni menuju kehidupan yang lebih baik. Sedangkan, pada akhir dari pola ini sangat tidak seimbang dari pemikiran awalnya saja. Kita bisa melihat, merasakan, sekaligus mengamati bagaimana seseorang yang peragu itu jarang sekali bisa mengatakan dengan tegas, bertindak tegas atau berwatak tegas sesuatu yang dianggap salah atau bahkan malah bertentangan langsung dengan norma, kaidah dan adat yang sebenarnya telah lahir sebelumnya. Sehingga hal ini perlu diluruskan dengan cara mempertimbangkan sikap secara objektif atau dengan kata lain tegas, terang dan nyata.

            Cara berpikir orang Skeptics hanya menginginkan keindahan di luarnya saja tanpa menilik ke dalam. Misalnya ketika seseorang sedang gembira ia pasti akan jauh lebih damai tanpa ada beban sedikitpun, dia cenderung menikmati kehidupan ini baik, bahkan menurut mereka, hari esok akan jauh lebih baik daripada sekarang.  Tapi kenyataan berkata lain, ketika mereka dihadapkan pada suatu permasalahan, biasanya orang-orang skeptics enggan atau tidak mau menerima adanya permasalahan tersebut sehingga ia tidak siap dalam mengatasi masalah tersebut karena tidak tahu bagaimana cara yang baik dalam mengatasi masalah tersebut sehingga ketidaksiapan dalam menghadapi problematika yang sedang terjadi ini menimbulkan kondisi jiwa atau nalar yang tidak tegas dalam menghadapi masalah tersebut. Skeptics ini pula lah yang akan mengerogoti mereka dalam sebuah kehancuran.

            Dalam beberapa praduga, sang tokoh filsuf, Pyrro dikenal melalukan keyakinan Skeptics ini pada sesuatu yang rupanya tidak dapat dinalar dan diduga-duga oleh siapa saja. Beliau melakukan tindakan diluar logika dan nalar. Entah karena dia putus asa dengan cara mengakhiri hidupnya dengan tindakan konyol seperti itu atau karena hal lain misalnya karena ingin membuktikan pemikirannya melalui tindakan tersebut. Apakah Pyrro melakukan ini karena saking ingin menjiwai perannya sebagai induk pemikiran tersebut atau karena dalih lain yang belum terjangkau oleh akal dan logika kita? Inikah yang dinamakan kerangka sesat berpikir sehingga menimbulkan kehilangan raga dan nyawa?

            Mengenai tindakan tersebut sebenarnya dilatarbelakangi oleh pola pikir yang tidak sejalan dengan keimanannya. Ia benar-benar nekat, sekali lagi ia sebenarnya menantang maut dengan cara berjalan di dekat tepi tebing yang curam dan di depan kuda ia lakukan barangkali demi membuktikan keabsahan pemikirannya tersebut. Ia yang melahirkan teori itu, maka praktiknya jelas beliau jua lah. Tak ada yang mengerti dengan semua ini. Beliau ibarat sebuah kelinci percobaan. Tentu saja ini merupakan suatu hal yang mengarah kepada kesesatan berpikir yang nyata hingga sekali lagi, beliau harus mengorbankan jiwa dan raga. Sesungguhnya bukankah dalam berteori butuh praktik tanpa harus mengorbankan jiwa sendiri? Memang terlihat konyol, tetapi itulah yang terus dilakukan oleh Pyrro. Dia melakukan itu semua tentu ada maksud tertentu sampai ia meninggal dunia pada usia lanjut. Sungguh mengejutkan berbagai pihak, tetapi begitulah yang namanya keyakinan yang sudah ditanamkan dan mendarah daging pada pribadinya.

            Selanjutnya Diogenes the Cynic (412-322) yang diartikan sebagai Diagenes yang sinis, yang bermakna seseorang  yang melakukan tindakan anarki. Ia tinggal di barel dan mempunyai sifat kasar terhadap semua orang. Ini merupakan sesuatu yang tak lazim bagi seseorang. Kepribadian seseorang sebenarnya terlahir melalui dua proses yang konvergensi berdasarkan hereditas atau pembawaan sejak lahir dan berdasarkan atas pembawaan lingkungan. Maka dari itu arah konvergensi sebenarnya mengacu kepada faktor internal (dari dalam) dan sebaliknya, yakni faktor eksternal (dari luar) yang mempengaruhi seseorang. Sifat sinis inilah yang memberikan karakter atau pola kepribadian yang tidak sesuai dengan hakikat manusia yang lemah lembut dan berkepribadian baik.

            Menurut ilustrasi yang dihasilkan dari sebuah gambar tersebut, yakni menurut dua percakapan secara dialogis yang disampaikan secara runtut dan berkesinambungan secara komunikatif. Misalnya pada hal ini kita melihat bagaimana Skeptisisme menghasilkan kebahagiaan, karena dengan memiliki sebuah keyakinan yang dogmatis, maka terbebas dari sifat mengikuti atau menjabarkan suatu ajaran tanpa kritik sama sekali bahkan tanpa adanya kritik itu maka anda menjadi bebas dari kekhawatiran untuk dikritik. Maka, dirasa betul bila jawaban dari hal ini adalah kita tidak perlu untuk memberontak karena semua orang sudah bebas. Jadi, kebebasan pada pola pikir ini bukan karena anti kritik, tetapi mereka berpandangan bahwa kebebasan itu meskipun jauh dari kritik, tetapi sebenarnya mereka akan lebih terbuka pada beberapa kritik saja dengan bebas melakukan apa saja tanpa harus mengikuti suatu ajaran kritik itu atau bahkan sebaliknya.

            Dalam pandangan Sextus Empiricus (c. 200 A.D.) menunjukkan bahwa seluruh pengetahuan tidak lain adalah relatif untuk dapat dicerna dari sudut pandang yang mana.[3] Sehingga proses ini tidak dapat dipercaya, dan akhirnya tidak ada yang pernah dibuktikan. Dalam hal inilah, perlu ada sesuatu hal yang dapat dibuktikan. Maka, harus empiris sehingga untuk membuktikan suatu bukti seseorang harus membuktikan bahwa bukti tersebut terbukti, dan sebagainya. Namun, untuk menyikapi empiris tidaknya sesuatu hal itu bergantung pada pembahasan mengenai sudut pandang pengetahuan. Misalnya, kita mengenal pengetahuan indrawi yang merupakan sebuah rangsangan atau tangkapan dari panca indra kita. Ada pula pengetahuan ilmiah yang lebih bersifat kepada empiris sekaligus logis. Artinya, pengetahuan ini saling melengkapi antara logis dan empiris sehingga terjadilah kesinambungan di antara keduanya.

            Filsafat sendiri sebagai ilmu yang lebih bersifat logis daripada empiris. Artinya, filsafat sebenarnya pengetahuan yang bersifat logis, tetapi tidak empiris. Yang dimaksud empiris disini yakni berdasarkan pengalaman, terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan dan pengamatan yang sebelumnya telah dilakukan.

B.     Saran

            Akhirnya, tentu saja, dalam hal ini skeptics, dapat menipu atau memanipulasi mereka dengan selalu menggunakan cara mati (dogmatis) di sekitar suatu ajaran misalnya tentang  suatu aliran politik atau keagamaan yang menjadi pandangan bahwa pengetahuan itu dibatasi baik oleh akal budi yang serba terbatas maupun dengan cara mengetahui sesuatu yang serba terbatas.

C.    Kesimpulan

            Oleh karena itulah, dalam menyelami skeptics dan cynics kita akan mengetahui bagaimana pola pemikiran skeptics yang lebih menunda-nunda sebuah ketegasan tanpa sebab yang jelas, tetapi terlepas dari itu pula ia selalu mengharapkan kehidupannya bisa menjadi kehidupan yang baik. Sedangkan, kajian mengenai cynics sebanding dengan skeptics atau bahkan lebih buruk daripada itu, karena sinis lebih kepada sebuah tindakan yang di luar batas dengan cara anarkis dengan meninggalkan ciri khas sifat kasar terhadap semua orang.

D.    Saran dan Materi Tambahan

 

POSTMODERNISME

Membahas mengenai postmodernisme seolah-olah tidak akan ada ujungnya sebab ada banyak sekali faktor yang berpengaruh terhadap munculnya postmodernisme ini. Kita tidak bisa tahu kapan tepatnya aliran ini lahir dan berkembang. Pemikiran itu membutuhkan penalaran, kritik dan logika. Namun, pada umumnya yang dianggap sebagai titik tolak lahirnya postmodernisme adalah filsafat Nietzschean, seperti penolakannya terhadap absolutisme Filsafat Barat dan sistem pemikiran tunggal. Ini membuktikan bahwa pemikiran seorang filsuf menjadikan lahirnya aliran atau paham baru yang menjadi melegenda dan menjadi bukti autentik dalam ontomologi.

            Menurut Sarup (2003: 231-232) Postmodernisme diartikan sebagai gerakan kultural yang semula terjadi di masyarakat Barat tetapi telah menyebar ke seluruh penjuru dunia, khususnya dalam bidang seni, antara lain hilangnya batas-batas  sekaligus hierarki antara budaya populer dengan budaya elite, budaya massa dengan budaya tinggi. Dalam karya sastra, misalnya, hilangnya batas-batas yang tegas antara seniman sebagai pencipta dengan pembaca sebagai penerima, bahkan seorang pengarang diangap sebagai anonimitas.[4]  

            Kita tentu mengetahui, misalnya di dalam sebuah karya seni terjadilah gesekan atau pergeseran dari fokus dan keseriusan, dari kedalaman ke permukaan, ke permainan sehingga terjadi ironi, parodi, interteks, dan pastiche. Namun, secara umum, postmodernisme merupakan hasil gerakan mahasiswa yang saat itu dilakukan pada tahun 1968. Hal ini berdasarkan pula pada kekutan negara yang tidak dapat dihancurkan, maka postmodernisme mencoba menemukan jalan melalui struktur bahasa dan melalui kekuatan wacana. Struktur bahasa dan dengan demikian struktur teks menjadi model, semua disiplin dianggap sebagai tulisan, teks dan wacana sehingga pemecahannya pun dapat dilakukan secara tekstual. Tentunya hal ini membuktikan bahwa sasaran daripada postmodernisme adalah semua sistem pemikiran total, khususnya organisasi politik yang didasarkan atas struktur masyarakat secara keseluruhan.

            Dalam sejarah kita bisa melihat, pada awalnya, estetika merupakan studi tentang keindahan, baik dalam karya seni maupun keindahan alam pada umumnya. Estetika sebagai hal yang wajar sebagai bentuk yang ada dan melekat pada sebuah karya. Tidak akan pernah sebuah karya itu tidak mempunyai estetika. Untuk itu, maka atas dasar pengaruh Plato, sebagian para filsuf memandang estetika sebagai keindahan dan sebagai kualitas instrinsik yang tekandung dalam suatu objek atau cipta. Berbeda dengan pendapat tersebut, pendekatan semiotika, khususnya periode postmodernisme lebih banyak memberikan perhatian pada tanda-tanda, sebagai estetik semiotis, dengan pertimbangan bahwa kualitas estetis bersumber dari dan dihasilkan dari pemahaman terhadap sistem tanda.

            Memang, dalam sistem postmodernisme ada banyak sekali ragam terminologi dan makna istilah postmodern, tergantung pada wilayah pendekatan yang berbeda. Di satu sisi, istilah “Postmodernisme” tidaklah diciptakan sebagai sesuatu yang baru dalam rangka filsafat. Sebelumnya istilah ini pun sudah cukup lama digunakan dalam bidang estetika, contohnya adalah kesenian khususnya yang menyangkut kepada arsitektur dan kesusasteraan, terutama Amerika Serikat.

            Seorang filsuf termasyhur asal negeri Jerman bernama Rudofl Panwitz (1917), telah menggunakan istilah postmodernisme yang secara kritis digunakan untuk menangkap adanya gejala nihilisme kebudayaan Barat modern.[5]

            Postmodernisme adalah aliran atau paham yang berkembang setelah era modern dengan modernismenya. Aliran ini bukan hanya paham tunggal sebuah teori, melainkan menghargai teori-teori yang bertebaran dan sulit dalam mencari titik temu yang tunggal.

            Ada banyak sekali tokoh yang memberikan arti dan pemaknaan dari Postmodernisme dengan penafsiran yang berbeda-beda. Ini menunjukkan keragaman dan kemajemukan makna dari postmodernisme itu sendiri. Memang pemikiran yang lahir dari seorang filsuf menunjukkan bahwa perilaku yang dikaitkan dengan pola, teori dan konsep tidak dapat dipisahkan dari penelitian atau observasinya.

            Awalan “post” pada istilah itu banyak menimbulkan perbedaan arti. Menurut salah satu filsuf, yakni Lyotard yang mengartikan “post” sebagai pemutusan hubungan pemikiran total dari segala pola kemodernan. Sedangkan, menurut Tony Cliff menunjukkan perbedaan dengan pendapat Lyotard tadi. Beliau menuturkan bahwa postmodernisme berarti suatu teori yang menolak teori.[6] Lain halnya dengan David Griffin yang mengartikan postmodernisme sekadar koreksi atas aspek-aspek tertentu saja dari kemodernan.[7]

            Dalam ciri-ciri postmodernisme sendiri terdapat setidaknya delapan karakter sosiologis yang menonjol, yakni timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek daripada modernitas hingga memudarnya kepercayaan kepada agama yang bersifat transenden (meta-narasi), dan diterimanya pandangan pluralisme relativisme kebenaran, meledaknya industri media massa, sehingga ia bagaikan perpanjangan dari sistem indrera, organ dan saraf kita, yang pada urutannya menjadikan dunia menjadi terasa kecil, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan nasionalisme dengan masa lalu.

            Ciri-ciri lain adalah semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban) sebagai pusat kebudayaan dan wilayah pedesaan sebagai daerah pinggiran, semakin terbukannya peluang bagi kelas-kelas sosial ataupun kelompok untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas, munculnya kecenderungan bagi timbulnya eklektisisme dan pencampuradukan dari berbagai wacana.

            Bahasa yang digunakan dalam hal wacana postmodrnisme seringkali mengesankan ketidakjelasan makna dan inkonsistensi sehingga apa yang disebut sebagai era postmodernisme banyak sekali mengundang paradoks.

           

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmed, Akbar. 1992. Postmodernisme and Islam. New York: Routledge.

Griffin, David Ray. 1998. The Re-enchanment of Science: Postmodernisme Proposal. Albani: State Univerisitu Network.

Ihsan, Fuad. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta.

Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Rahman, Masykur Arif. 2013. Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kembang Pustaka.

Robinson, Dave dan Judy Groves. 2001. Introducing Philosophy. Amerika Serikat: Totem Books.

(en.wikipedia.org/wiki/postmodernisme)

Sekian, mengenai makalah filsafat ilmu ini. Semoga dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

CATATAN: Jika anda ingin menjadikan makalah ini sebagai referensi, jangan lupa mencantumkan sumbernya (duniapengetahuandansastra.com).

Komentar anda sangat diharapkan. Jangan lupa memberikan saran maupun kritik yang membangun ya. Marilah bertanya jika memang perlu ditanyakan di kolom komentar di bawah. Like dan Share jika postingan tentang makalah ini bermanfaat. Terima makasih.

 

(Penulis Makalah: A.Dirham. Ditulis di Kampus Putih, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA pada hari Minggu, 01 Mei 2016 pukul 19:00 WIB.)

 



[1] Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), hlm. 148.

[2] Dave Robinson dan Judy Groves, Introducing Philosophy (Amerika Serikat: Totem Books USA, 2001), hlm. 39.

[3] Ibid, hlm. 39.

[4] Nyoman Kutha Ratna, Estetika Sastra dan Budaya (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), hlm. 88-96.

[5] Akbar Ahmed, Postmodernisme and Islam (New York: Reutledge, 1992), hlm. 25.

[6] Diakses dalam http://en.wikipedia.org/wiki/postmodernisme.

[7] David Ray Griffin, The Re-enchanment of Science: Postmodernisme Proposal (Albani: State University of Network, 1988), hlm. 72-78.

0 Response to "MAKALAH FILSAFAT BARAT DAN POSTMODERNISME"

Post a Comment