SELAMAT DATANG DI :

SELAMAT DATANG DI :

PIDATO HUT RI

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa yang telah memberikan kita berbagai kenikmatan, terutama nikmat kesehatan dan panjang umur sehingga dalam hari kemerdekaan bangsa Indonesia ini, Alhamdulillah kita semua masih diberikan kenikmatan-Nya yang tiada terhingga.

            Shalawat serta salam, marilah kita kirimkan kepada junjungan Baginda Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya, pengikutnya, dan semoga kita merupakan pengikut setianya hingga akhir zaman. Aamiin.

            Salam Merdeka! Salam Pergerakan, Pergolakan, Perjuangan dan Nasionalisme!  
   
            Allahu Akbar! Merdeka!

            Ya, baiklah pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah saya untuk menyampaikan sebuah pidato tentang “INDONESIA MERDEKA”    
  
            Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, tak terasa detik demi detik, hari demi hari, tahun demi tahun silih berganti. Dengan silih bergantinya waktu, tak terasa akhirnya sampailah bangsa kita di usia yang senja. Tahukah saudara-saudara, sudah berapakah usia bangsa kita ini?

            Ya, usia tanah air kita ini sudah menginjak 71 tahun. Ini bukanlah waktu yang singkat saudara. Di usia bangsa kita yang telah mencapai 71 tahun inilah kita sebagai bangsa yang kokoh, kuat dan berdaulat telah merdeka. Kita telah terbebas dari penjajahan. Sebuah proses yang sangat panjang dan tidak mudah untuk menggapai cita-cita dari para pejuang. Sungguh, kita telah dihadiahkan oleh Allah Yang Maha Esa, yakni kemerdekaan. Sebuah cita-cita yang sudah sejak lama diimpikan dan digadang-gadang oleh bangsa kita. Ya, kemerdekaan yang sejati, tanpa penjajahan, penindasan dan pemerasan.

Pidato HUT RI


            Budi luhur dan kemuliaan hati dari para pahlawan bangsa sungguh tak ternilai harganya. Kita tidak dapat membayar sebuah ketulusan. Sungguh, para bunga bangsa berjuang untuk memperoleh haknya sebagai rakyat, sebagai bangsa dan sebagai negara yang memiliki kedaulatan penuh. Mereka bertaruh jiwa, raga, harta bahkan nyawa sekalipun karena mereka ikhlas.

            Pahlawanku, berjuang tanpa pamrih dan mereka memiliki jiwa yang hangat. Sungguh, mereka memiliki kebesaran hati yang teramat mulia. Jiwa mereka tetap ada dalam setiap sanubari rakyat Indonesia yang meresapi, menghayati, mengetahui, mempelajari serta mencerminkan karakternya dalam berkehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara.

            Tidak ada yang lebih indah dan lebih mulia daripada kasih yang tak terhingga mengalir dengan ketulusan sejati dengan keimanan, ketakwaan dan amal soleh. Bakti yang tulus tidak akan pernah retak, meskipun telah dimakan usia.

            Nusa dan bangsaku, perjuangan kita untuk mendapatkan kemerdekaan bukanlah hal yang mudah. Jangan membayangkan jika kemerdekaan hanya membalikkan telapak tangan. Sungguh, realitanya sangat bertentangan dan berlainan. Kita merdeka tidaklah mudah. Sukar, sulit, susah dan pelik tentu saja para bunga bangsa kita yang rasakan. Mereka benar-benar menjiwai sebuah nasionalisme yang mengakar dan mendarah daging dalam jiwanya. Api semangatnya tidak akan padam. Api semangat perjuangan akan terus menyala dan berkobar, bergejolak hingga saat ini kendatipun mereka telah gugur.

            Saudaraku, sekarang ini kita tinggal memetik buah dari kemerdekaan. Penjajahan sudah tidak menimpa tanah air. Kita telah terlepas, terbebas dan merdeka dari penjajahan. Sungguh, inilah kenikmatan Allah Yang Maha Esa. Janganlah kita mendustakan nikmat-Nya.

            Saudaraku, tanpa jasa, dedikasi dan pengorbanan dari para pejuang, mungkin saat ini kita tidak dapat menghirup sebuah bangsa yang besar dan berdaulat. Apalah arti kita jika dibandingkan dengan para pahlawan. Kita hanya bisa menikmati jerih payahnya saja bukan? Banyak anak-anak, muda-mudi, dan generasi-generasi sekarang yang jauh dari harapan bangsa kita. Betapa tidak, sungguh kita bisa merasakan, melihat, mendengar tentang bagaimana para generasi saat ini yang bermalas-malasan dalam bekerja, tidak giat, ulet dan kebanyakan jauh dari semangat para pejuang bangsa kita.

            Anak-anak zaman saat ini, banyak yang menyukai ponselnya sendiri daripada sebuah nasihat hingga mereka melupakan kewajiban mereka, yakni beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

            Anda benar, tidak semua yang demikian, tetapi tentu mayoritas seperti ini. Lalu, mau dibawa ke mana bangsa kita ini jika kebanyakan pemudanya seperti ini? Tidak mencerminkan akhlak yang bersumber dari pancasila dan semangat juang para pahwalan.

            Ingatlah darah juang dari para pahwalan dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan supaya dapat kita kenang. Selain itu, marilah kita giatkan jiwa dan raga kita. Rajinlah belajar bagi pelajar. Bergiatlah bekerja bagi para pekerja. Dan bungkuslah semangat rajin, ulet dan ketekunan itu dengan beribadah yang tulus. Beramal sholehlah untuk menggapai kehidupan dunia dan akhirat.

            Saudaraku, jangan lupa berani. Bukan berani yang negatif. Bukan berani memakai narkoba, minuman keras, apalagi tawuran. Sungguh, bukan itu yang dimaksud. Kita harus berani menciptakan ide agar melahirkan karya yang menjadi suatu kebanggaan dan kemaslahatan bagi peradaban.

            Saudaraku, berjiwalah cerdas, kreatif, inovatif dan produktif. Sertakan juga doa dan strategi untuk membangun bangsa yang lebih cerah. Bersikaplah religius dan nasihat-menasihati dalam beramal soleh. Kita tidak akan bisa berdiri sendiri sebab tidak ada daya dan kekuatan, kecuali pertolongan dari Allah Yang Maha Esa.  

            Ya, karena ada Allah Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan kita curahan nikmat, anugerah, rezeki dan karunia yang tak terhingga. Jika kita menghitungnya, maka tidak akan bisa. Karena sesungguhnya, nikmat Allah begitu luar biasa.

            Saudaraku, marilah kita menilik sebentar kondisi-kondisi kritis dan teramat genting prakemerdekaan.

            Betapa kerasnya penjajahan zaman dahulu, letupan, ledakan dan kobaran api begitu menyiksa para bunga bangsa kita. Mereka-mereka adalah orang yang maju tak gentar demi sebuah cita-cita mulia, kemerdekaan.

            Sejak saat yang merdeka, bebas dari cengkeraman asing. Tak terbayangkan dahulu, betapa pedih dan sakitnya luka, jiwa dan raga, harta yang terkuras dan darah-darah yang bersimbah dari para bunga bangsa yang terkuras demi mempertaruhkan sebuah cinta, nama dan kehormatan bangsa Indonesia.

            Duhai saudaraku, betapa peliknya bangsa kita dahulu. Tak terbayangkan, kala pencoleng mengamuk, menggerogoti, semakin menindas dan menghabisi nyawa bangsa.

            Sahabat, tak dapat kita bayangkan betapa dahsyatnya api semangat perjuangan bangsa kita dahulu. Kita bisa menilik betapa pedih dan perihnya para bunga bangsa yang rela berkorban untuk menjadikan kita bangsa yang bebas dan berdaulat!

            71 Tahun yang lalu, pada tanggal dan bulan yang sama, di tanggal 17 Agustus 1945, bangsa kita mempunyai sejarah besar, melahirkan sebuah riwayat yang tidak akan pernah retak di makan usia dan tetap terkenang sepanjang masa. Sungguh, betapa luhur segala pengabdian, dedikasi dan kepribadian yang tangguh dari para pemimpin kita. Tidak terhitung banyaknya dulu, betapa para pahlawan rela berjuang menyongsong matahari merdeka. Tak terasa peluhnya membanjiri ketulusan yang diberikannya. Hingga ia telah menuju ke haribaan pertiwi. Mereka telah berjasa tanpa tanda jasa dan namanya yang akan selalu harum tak akan pernah menghilang dari peradaban bangsa.

            Sungguh, bangsa kita tidak akan merdeka sepenuhnya, tanpa jasa-jasa para pahwalawan. Kemerdekaan adalah hak yang sudah kita rasakan saat ini. Tanpa mereka kita tidak mungkin berbahagia menikmati kecanggihan teknologi di zaman yang serba modern ini.

            Berat, sungguh berat yang namanya perjuangan. Para pahlawan dengan tulus, berpaut cinta dan pengorbanan tidak terhingganya bagi bangsa kita ini.

            Saat detik-detik teks proklamasi dibacakan, apa yang tersirat dari hal itu? Sungguh banyak. Bangsa kita mengaku bebas dan berdaulat. Siap tempur jika terjadi peperangan. Dan tetap memegang teguh persatuan dan kesatuan yang tiada tara.

            Waktu demi waktu mengukir sejarah tentang teks proklamasi dirumuskan dan dibuat hingga dideklarasikan. Atas nama rakyat Indonesia, begitulah yang tertera dalam teks proklamasi.

            Dirgahayu ke-71 INDONESIA. Semoga tetap jaya dan tetap merdeka! Salam Perjuangan.


         Demikian, pidato yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf sekiranya ada kata-kata yang kurang berkenan di hati para saudara sekalian. Semoga hati kita tergerak dan menjadi sumber semangat kita dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur!

Wassalamu'alaikum


0 Response to "PIDATO HUT RI"

Post a Comment